Yang Berjubah Adalah Mereka Yang Harus Mewartakan Cinta

“ Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh”

( Markus 5:28 )

Fr. Fino Gesing (Keuskupan Ruteng)

Saat Menjalani Tahun Orientasi Rohani ada sebuah  kerinduan yang besar  untuk mengenakan pakaian rohani. Rasa-rasanya menjadi calon imam di Tahun Orientasi Rohani tanpa pakaian rohani adalah sebuah ketidaksempurnaan. Ada dorongan yang besar dalam hati untuk mengenakan dan memiliki sebuah pakaian rohani. Namun dalam kerinduan itu ada sebuah pertanyaan kecil yang menggugah hati yang membuat saya kembali merenung tentang perjalanan panggilan saya. Kemudian lahirlah pertanyaan tentang  apa itu kerinduan? Apa yang sebenarnya saya rindukan? Mengapa saya merindukannya? Bagi saya pertanyaan ini penting untuk menggali motivasi dan kerinduan saya untuk mengenangkan pakaian rohani. Karena itu  momen penerimaan  jubah pada tanggal 3 Mei 2020 yang bertepatan dengan hari panggilan dalam menjadi kesempatan berahmat dan istimewa dalam hidup saya. Ketika menerima jubah disana ada kerinduan yang telah berlabuh,  di sana ada sukacita, di sana ada kebahagiaan, di sana ada komitmen dan di sana ada tanda cinta yang luar biasa.

Ketika mengenakan jubah tentunya ada kegembiraan yang luar biasa. Kerinduan yang selama ini tertahan dalam hati kini telah tercapai. Namun ada pertanyaan yang masih berkecambuk dalam hati yakni “Mengapa saya merindukan jubah?”. Jubah adalah identitas calon imam. Ketika saya menjadi calon imam tanpa mengenakan jubah, saya merasa ada sesuatu yang kurang. Jubah merupakan kerinduan untuk menggenapi identitas saya sebagai calon imam. Karena itu jubah bukan hanya tentang busana rohani semata melainkan jubah juga adalah sebuah bukti komitmen, jubah adalah bukti cinta yang nyata kepadaTuhan. Jubah adalah tanda bahwa saya sepakat dengan panggilan Tuhan. Bila saya mengibaratkannya, jubah itu sama seperti cincin dalam pernikahan. Dengan melihat cincin kita mengetahui bahwa seseorang telah mengikrarkan janji cinta kepada manusia lain. Dengan melihat jubah kita mengetahui bahwa seseorang telah mengikat cinta yang mesra dengan Tuhan. Dalam perayaan penerimaan jubah ada penyerahan diri dan sekaligus awal ziarah menuju imamat kudus.

 

Jubah Kristus Adalah Jubah Cinta

Bagi saya juga jubah mewakili sebuah realitas Yang Ilahi, jubah mewakili realitas yang trasenden. Dengan mengenakan jubah saya juga mengambil bagian dalam  jubah Kristus. Saya teringat dengan kisah ketika Tuhan Yesus menyembuhkan seorang wanita yang sakit pendarahan. Dengan hanya menyentuh jubah Yesus wanita itu menjadi sembuh ( bdk Mrk. 5: 21-34 ). Padahal dalam tradisi Yahudi wanita yang mengalami pendarahan tergolong najis. Masyarakat Yahudi enggan bergaul apalagi menolong mereka. Namun ketika Yesus merasa ada yang menyentuh jubahNya Ia bertanya, “Siapa yang menyentuh JubahKu?” dan ketika wanita itu menyatakan dirinya Tuhan Yesus memaklumkan kesembuhannya atas cinta-Nya. Jubah Kristus merupakan sebuah jubah cinta sekaligus mewakili sebuah realitas yang Ilahi. Saya yakin dan percaya bahwa jubah yang saya kenakan adalah juga jubah Kristus. Maka konskuensi paling logis bahwa saya juga harus seperti Kristus mewartakan cintaNya kepada orang lain. Karena saya telah mengambil bagian dalam jubahNya, saya juga mesti mengambil bagian dalam karya dan sabdaNya. Saya dan keenam puluh delapan teman-teman saya yang telah menerima jubah Kristus adalah orang  yang harus mewartakan cintaNya. Itulah komitmen dan itulah konsekuensi dari tanda cinta kepadaNya.

Saya juga teringat bahwa kesempatan penerimaan jubah ini terjadi ketika dunia tengah berduka oleh pandemi virus COVID-19. Namun penyelenggaraan Tuhan tetap terjadi atas kami fratres Tahun Orientasi Rohani Seminari Tinggi Interdiosesan Sto. Petrus Ritapiret. Walaupun perayaan penerimaan jubah ini tanpa kehadiran orang tua saya merasa bahwa kesempatan ini tetap menjadi momen yang indah. Melaluinya saya merenungkan bahwa pilihan ini adalah sebuah pilihan dari hati nurani saya tanpa paksaan dari siapa saja. Ketika saya menerima jubah tanpa didampingi orang tua saya menjadi sadar bahwa pilihan ini adalah murni atas kehendak saya yang bebas dalam menanggapi panggilan Tuhan. Saya mau mengambil mengambil bagian dalam jubah Kristus karena saya merasa terpanggil bukan merasa terpaksa oleh oleh siapa saja. Ketika jubah telah diletakkan diatas tangan saya disana ada tanggung jawab antara saya dan Tuhan.  Saya mau mengenakan jubah-Mu Kristus.

Aku Harus Menjadi Kerinduan yang Mewartakan Cinta

Kini saya  telah mengenakan jubah. Kerinduan yang lama telah saya capai. Kini kerinduan yang selanjutnya  adalah kerinduan dan keharusan untuk mewartakan cinta kepada sesama. Karena saya telah mengambil bagian dalam jubahNya saya juga harus menjadi sepertiNya. Kerinduan saya atas jubah tidak  boleh menjadi kerinduan hanya sebatas pada pakaian rohani. Dengan mengenakannya orang tidak hanya mengenal saya sebagai seorang calon imam tetapi juga orang yang mewartakan cinta. Semoga rahmat Tuhan senantiasa menyertai kami para fratres Tahun Orientasi Rohani dalam seluruh ziarah panggilan kami.

 

Post SebelumnyaDiskusi Buku Sastra (Kelompok Minat Teater Tanya)
Post SelanjutnyaRefleksi Liburan: Menemukan Tuhan Yang Hilang