Sharing Liburan: Menjadi Garam dan Terang Tidak Perlu Muluk-Muluk

Menjadi Garam dan Terang Tidak Perlu Muluk-Muluk

Oleh: Fr. Aldo Foya

Tkt VI Keuskupan Ruteng

 

            Wabah pandemi covid-19 telah mengubah segalanya, tak terkecuali irama dan dinamika perkuliahan. Perubahan tersebut teraktualisasi dalam berbagai keputusan untuk melakukan pertemuan jarak jauh bagi seluruh mahasiswa/i di seluruh penjuru tanah air. Saya pun harus mengalami ini (belajar jarak jauh/belajar dari rumah). Di sela-sela waktu belajar tersebut terbersit dalam pikiranku untuk tetap mengisi seluruh waktu dengan pelbagai aktivitas yang mungkin bisa dilakukan dengan mudah. Kata pengajar bahasa Inggrisku dulu, RD. Philipus Ola Daen, sewaktu menjalani Tahun Orientasi Rohani (TOR) Himotiong (Sekarang berubah menjadi TOR St. Yohanes Paulus II) Maumere, you must killing your time! Kira-kira terjemahan bebasnya “Isilah waktumu!” Pesan ini terus terngiang dalam benakku, sehingga 4 hari sesuah saya berada di rumah (sejak tanggal 16 April 2020, dirumahkan karena wabah corona), saya memutuskan untuk mulai menanam sayur.

 Ragam Sayuran dan Ragam Belajar

            Budidaya sayur di lahan sendiri adalah peluang kerja yang tidak membutuhkan modal banyak. Cukup rajin bangun pagi, setia menerjang udara dingin, menyapa embun-embun, berani kotor, berani bergaul dengan nyamuk dan lintah, dan berhenti berteori banyak. Itu saja cukup.

Nasihat ini amat mudah dilakukan. Saya sudah melakukan semuanya, meski kadang harus istirahat untuk berlaku setia dan rajin setiap hari. Tapi, saya pastikan kalian pun bisa melakukannya dengan mudah. Kecuali kalau kalian tidak punya kebun atau pekarangan sama sekali. Nah, untuk itu mulailah untuk berpikir dari hal kecil, misalnya mencuci dan masak adalah skill paling dasar dari semua orang, ia tidak berkaitan dengan jender. Jika kalian punya pikiran macam ini, maka kalian akan lebih kreatif meski dalam kondisi apapun. Oke, jangan terlalu banyak nasihat. Abaikan jika merasa tidak perlu.

Kita lanjutkan. Tanpa pikir panjang saya ke kebun dan mulai menggembur tanah, membuat bedeng dan memagarinya dengan bambu. Lahan yang dibuat berukuran kecil (10 m x 20 m). Sesuai kemampuan saya, tentunya. Saya tidak mengajak siapapun, hanya memulai dengan ikhtiar “mengisi waktu” sebab menjadi penganggur hanya akan menyusahkan diri sendiri dan orang lain. Dua hari waktu yang dibutuhkan untuk menata lahan kecil tersebut. Sesudah itu, saya mengambil pupuk kandang sebagai bahan organik untuk menambah kesuburan tanah. Dengan campuran 1:1 (satu ember tanah dan satu ember pupuk kandang, sebaiknya yang berasal dari kotoran babi) saya mulai menyemaikan benih. Benih pertama yang disemaikan adalah selada jenis leaf lettuce. Hampir 200 biji benih ditabur dalam wadah yang berisi campuran tanah dan pupuk organik. Dengan ilmu seadanya, sambil cek-cek di youtube, saya menutupi wadah tersebut dengan plastik hitam untuk menjaga kelembaban selama 3 hari. Sesudah biji berkecambah dan mulai bertunas, saya membuka plastik penutup dan disimpan di area yang terkena matahari yang cukup.

Gambar 8 Sayur Sawi Hijau Brassica rapa group caisin3

Lima hari setelah benih bertunas, saya mulai mengambil pupuk organik lagi dan mencampurkannya ke dalam bedeng yang sudah disiapkan. Lalu disiram dan dibiarkan tercampur merata agar gas yang masih tersisa dari kotoran tersebut hilang. (Saya belajar pada RD Robert Pelita, Ketua PSE Keuskupan Ruteng, cara mengukur ada tidaknya gas dalam kotoran babi). Ini penting agar akar tanaman tidak terbakar oleh gas yang ada dalam kotoran hewan. Bayangkan jika gas itu banyak, anda bisa ambil untuk masak nasi (biogas). Sesudah mengetahui bahwa kadar gasnya berkurang saya mulai menata sekeliling bedeng. Saya menanam sere di pinggir bedengan sebagai pengendali hama lokal (ilmu yang diperoleh dari sharing seorang teman).

Sesudah lahan disiapkan, benih yang telah disemai mulai ditanam satu persatu. Jaraknya bisa diatur sendiri. Intinya, jangan sampai mereka berebutan makanan. Maaf, lupa, lama persemaian benih selada jenis leaf lettuce menurut saya adalah 7 hari, sekurang-kurangnya dari pengalaman saya menanam sayur ini dan sekarang sudah panen. Bisa juga lebih atau kurang, sesuai dengan kadar ilmu yang kita miliki. Jangan malu untuk belajar di youtube atau setia mendengarkan orang.

 

Pekerjaan yang paling utama sesudahnya adalah mencintai apa yang telah saya mulai. Saya merawat sayuran tersebut dengan sukacita seperti merawat diri sendiri. Jika pagi harinya saya kuliah online, maka sore harinya saya sempatkan diri untuk merawat sayuran (jarak dari rumah ke kebun sayur 7 km, kadang ditempuh dengan motor atau dengan berjalan kaki). Semua ini dilakukan dengan gembira. Apalagi di kebun hawanya selalu segar dan bersih. Ini juga trik untuk menghindari keramaian (waktu itu bulan mei-juni, corona lagi heboh-hebohnya). Orang-orang di kampung hampir saja tidak tahu kalau saya sedang berlibur. Kewajiban untuk karantina saya lakukan di kebun (berangkat jam 6 pagi dan pulang jam 5 sore). Jadi karantina pun saya tetap berusaha mengisinya dengan kegiatan yang produktif.

Sebulan berlalu, orang-orang di kampung mulai mencari tahu ada apa dengan aktivitasku di kebun. Saya tak tega berdiam diri terus dan akhirnya mulai cerita. Sesudah mereka mendengar dan melihat, satu persatu mereka mulai menjejaki cara saya. Saya selalu meyakinkan mereka untuk berani memulai. Mulai tanpa modal sekalipun. Saya bersedia memberikan benih bagi yang ingin mengembangkan sayuran. Sekarang, hampir sebagian besar dari mereka mulai menekuni ini, selain pekerjaan utama mereka sebagai petani ladang dan petani sawah.Jenis sayur yang saya tanam beravariasi. Ada selada, sawi putih, bayam, brokoli, dan pokcoy. Ada juga cabai, tomat, terung, dan mentimun. Meski volumenya cukup kecil, tetapi saya lakukan itu sekaligus untuk belajar apakah tanah di kampung cocok dengan semua jenis tanaman. Ternyata setelah dirawat dengan tekun dan setia, semuanya bisa bertumbuh dengan subur. Untuk menambah nutrisi bagi sayur-sayuran saya membuat pupuk organik berbahan dasar lokal (daun-daun, kotoran kambing, kotoran babi, dan microorganisme lokal (MOL).

Gambar 9 Selada dan Brokoli4

 

MOL dan Aneka Manfaat

Pembuatan Microorganisme Lokal (MOL) sebagai penganti Effective Microorganisme (EM4) sangat mudah. Mungkin ini bisa diceritakan kemudian hehehe. Saya menceritakan MOL karena manfaatnya sangat banyak. Selain untuk menambah nutrisi bagi sayur-sayuran, MOL juga digunakan untuk fermentasi pakan ternak.

Dalam pembuatan pakan ternak, saya meminta bantuan tim PSE Keuskupan Ruteng untuk melakukan sosialisasi dengan umat di kampungku. Sesudah melakukan sosialisasi, perlahan-lahan umat mulai membuatnya. Awalnya hanya satu atau dua orang. Lama-lama, banyak orang mulai membuat pakan ternak khususnya babi dan ayam. Beberapa orang dari antaranya memberi testimoni bahwa pembuatan pakan ternak ini cukup memudahkan mereka dalam merawat ternak babi, sehingga pakan yang dibuat  sebanyak 100 kg, bisa diberikan untuk kurun waktu satu bulan. Dengan kreativitas macam ini, umat akan diberdayakan menjadi lebih mandiri. Mereka tidak lagi bergantung pada bahan-bahan jadi yang menguras banyak uang.Menjadi garam dan terang dunia tidak perlu muluk-muluk. Cukup ikut terlibat, kerjakan, dan jangan banyak berkata-kata. Orang lebih  suka melihat pekerjaan kita daripada mendengar kata-kata kita. Jadi mulailah bekerja dan bekerja, sambil terus berdoa dan melayani.  

 

Post SebelumnyaDiskusi Buku Sastra (Kelompok Minat Teater Tanya)
Post SelanjutnyaCatatan Liburan: Rumah Baca