Refleksi Liburan: Menemukan Tuhan Yang Hilang

Menemukan Tuhan Yang Hilang

Oleh: Fr. Marno Wuwur

Tkt. III -  Keuskupan Larantuka

Eleazar

(Tuhan yang Menolong)

.........

Semenjak jatuh tempo kejadian yang mencengangkan ini,

Kami menunggu Tuan dengan rinai air mata

Berdesis-desau di beranda Sinagoga.

Membenamkan tubuh di sayap fajar,

Dan mencoba berkali-kali bermimpi.

Barangkali Engkau ada dalam benak yang penat.

Oh Tuan, cinta surgawi yang runyam, lekaslah pulang

Jika Engkau memeram diri dalam sunyi,

Kami mungkin abadi di atas batu nisan.

 

Sepenggal syair puisi di atas merupakan hasil dari refleksi saya tentang peristiwa yang tengah melanda dunia saat ini. Dunia diteror dengan kemunculan wabah virus Corona yang bermula di Wuhan Cina. Perasan hati seakan kalut bercampur takut yang mencekam. Kita diperhadapkan dengan aneka tantangan yang teramat tragis, menyayat sembilu. Kita seolah-olah berada pada situasi batas dimana kita seolah-olah tak memiliki pegangan hidup lagi. semua orang saling mencurigai satu sama lain, kalau ada yang batu dan sesak nafas.

Gema hastag “di rumah saja” dan “sosial distancing” mulai digaungkan di berbagai sosial media. Belakangan muncul pula physical distancing disusul tindakan nyata dari para penguni ibu kota. Kantor-kantor swasta mulai turut meliburkan dan merumahkan para karyawannya. Di jalanan yang biasanya ramai, lalu lalang para pekerja perlahan mulai sepi. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah untuk sementara ditiadakan dan diganti dengan proses belajar online. Di sisi lain para tokoh-tokoh agama mulai mengeluarkan pelbagai aturan seperti beribadat atau berdoa di rumah saja. Semua ini bertujuan untuk menangkal penyebaran virus Corona atau Covid-19 ini.

Dalam situasi yang carut-marut ini orang kembali menepuk dada seraya memohon belas kasihan dan pengampunan dari Allah yang Maha dahsyat. Saya teringat  akan seorang tokoh dalam kisah perjanjian lama yaitu Ayub. Ketika Ayub diizinkan mengalami penderitaan fisik, ia tetap taat dan setia kepada Allah.  Pelajaran berharga yang dapat kita petik dan renungkan dari kisah Ayub adalah orang yang setia pada Tuhan tidak terlepas dari penderitaan dan pencobaan dalam hidupnya. Namun melalui penderitaan yang tengah kita alami, kita boleh meneladani sikap Ayub. Dalam situasi penderitaan, Ayub tidak pernah menyalahkan bahkan meninggalkan Tuhan tetapi tetap hidup kudus dan setia pada Tuhan.

            Saya merasa bersyukur di tengah situasi yang mencekam ini saya semakin meningkatkan hidup doa saya. Setiap malam kami selalu berdoa bersama teristimewa doa rosario Laudato Si yang  dipimpin lansung oleh para bapa uskup se-Indonesia, mempersatukan diri dengan Allah dalam doa. Pada titik ini saya menyadari bahwa ketika Tuhan mengizinkan pencobaan itu hadir dalam hidup kita, maka sudah selayaknya kita tidak bersungut-sungut atau menyalahkan Tuhan tetapi kita boleh tetap hidup setia kepada Tuhan. Tuhan mengehendaki agar kita semua dapat keluar dari keadaan kita yang buruk dan memilih kehidupan yang berkelimpahan dalam Tuhan. “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10)

Saya percaya Tuhan memiliki cara tersendiri untuk mengajak umatnya berpaling dari kesalahan yang telah diperbuat. Kenyataannya Tuhan memanggil memanggil saya untuk berpaling pada-Nya. Mencintai Dia dalam kehidupan doa. Saya memaknai peristiwa ini sebagai jalan menuju kesucian dengan pertemuan yang intens di dalam Tuhan. Kehidupan rohani saya semakin diperbaharui. Inilah cara saya mengambil bagian dalam penderitaan sesama. Saya tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan tetapi di dalam doa-doa yang saya panjatkan secara tidak lansung saya turut merasahkan apa yang orang lain sedang alami.

 

Ajang refleksi diri ini pula ternyata mampu membuat sebagian orang menyadari hal kecil namun ternyata memiliki dampak yang besar untuk dirinya sendiri. Sejatinya refleksi diri di tengah pandemi ini ternyata bukan hanya mengevaluasi diri agar menjadi lebih berkualitas dan lebih baik, melainkan juga untuk membuat hidup menjadi lebih “hidup” mari kita mencari Tuhan dalam setiap derita perjalanan hidup kita.

Post SebelumnyaDiskusi Buku Sastra (Kelompok Minat Teater Tanya)
Post SelanjutnyaCatatan Liburan: Mata, Air Mata, dan Kacamata