Jubah Suci, Om Lipus dan Kelahiran Baru

Jubah Suci, Om Lipus dan Kelahiran Baru

                                                                                                                          Oleh :  Fr. Yuanito Aranse Sareng

     Moment menjelang penerimaan jubah bagi frater TOR tahun ini merupakan topik hangat, sekaligus menarik untuk disimak lebih detail. Ekspresi kerinduan serta wajah penuh harap menyelimuti setiap waktu berkumpul para frater, baik di kamar makan, kamar tidur, waktu olahraga, maupun saat rekreasi bersama. Cara lain pun tak luput seperti, setia mengontrol, mengawasi hingga meluangkan waktu untuk mendampingi Om Lipus yang sedang menjahit jubah di ruang jahit. Meski dengan cara menatap bisu tanpa banyak bertanya, ada apa dengan kunjungan para frater yang terus-menerus ke ruang jahit itu, muncul pertanyaan dalam benak saya: Apakah frater TOR punya keraguan tersendiri terhadap Om Lipus, Sang Penjahit jubah legendaris yang telah menjadi karyawan Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret  sejak tahun 1988? Mungkinkah fenomena di atas telah menjadi tradisi sejak kala di kalangan frater TOR pada hari-hari menjelang penerimaan jubah? Ataukah moment penantian penerimaan jubah tertanggal Minggu, 3 Mei 2020 terus mendorong saya pribadi untuk sungguh-sungguh berefleksi dan meyakinkan ketegasan benih panggilan calon imam yang sedang mekar ini?.

                                                            *      *     *     *     *

Sang Motivator dari balik bilik jahit Rumah Rita

    Rasa legah bercampur ceria memenuhi batin serta raut wajah saya yang sebelumya berada pada rasa bimbang perihal ketepatan waktu penerimaan jubah. Hal ini diperkuat oleh jumlah jubah yang belum sampai angka maksimal. Tak dapat disangkal bahwa Om Lipus, Sang Penjahit tunggal ini membuktikan kebolehan, dan kedisplinannya dalam menjahit jubah para frater. Ternyata dari tangannya sudah banyak jubah hasil jahitannya. Hebatnya lagi dalam waktu yang begitu sempit, ia dapat secepat itu menghasilkan jubah. Apa yang melatarbelakangi hal demikian?

      Ketika di sela-sela waktu menjahit jubah, dalam percakapan bernada canda dengannya, saya mendapatkan pengakuan berupa pengalaman dari Om Lipus perihal perjalanan dan sepak terjangnya sebagai penjahit di Seminari Tinggi ini. Om Lipus sangat bersyukur dapat bergabung bersama keluarga besar Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret tercinta ini, yang dipenuhi kaum berjubah, mereka yang kelak menjadi masa depan Gereja. Ada banyak pengalaman iman yang menuntun Om Lipus untuk setia menekuni profesinya yang mulia ini. Beberapa point di bawah ini dapat saya bagikan kepada para frater TOR untuk menjadi bekal serta teladan bagi penguatan merawat benih panggilan calon imam.

IMG 20200501 WA00131

      Pertama, kekuatan terbesar yang mendorong Om Lipus untuk menjadi penjahit yang handal ialah devosinya kepada Bunda Maria (Hyperdulia). Baginya doa spontan yang muncul dari ungkapan hati yang terdalam bersama Bunda Maria ialah doa yang paling sempurna. Tidak berarti doa-doa lain diabaikan. Doa yang senantiasa dipraktikkan oleh Om Lipus selalu dirasakan buahnya manakala ada kejadian-kejadian tertentu yang diimani sebagai mukjizat dari Allah sendiri. Baginya patung Bunda Maria yang berdiri kokoh di ruang jahit merupakan bukti kedekatannya pada Bunda Maria dan simbol kehadiran Bunda Maria yang senantiasa memberi inspirasi bagi Om Lipus dalam menekuni profesinnya. Kecintaan pada Bunda Maria sebagai sumber inspirasi, terus menuntun, memperbaharui serta melibatkan Om Lipus untuk tetap bekerja dan mengabdi pada embaga Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret yang dicintainya ini.

     Kekuatan pendukung kedua bagi Om Lipus ialah organisasi THS/THM (Tunggal Hati Seminari/Tunggal Hati Maria). Di usia muda, Om Lipus menjadi bagian dari organisasi ini, bergabung dalam ranting Seminari Tinggi Ritapiret, sungguh kenangan yang tak terlupakan. Organisasi ini berperan penting dalam membentuk fisik, mental, kedisplinan, sekaligus wadah hiburan yang selanjutnya dapat dipraktikkan Om Lipus dalam keseharian hidupnya. Satu bagian yang baginya penting dalam organisasi ini ialah kesempatan bermeditasi bersama. Meditasi merupakan satu faktor kekuatanya tersendiri. Dengan bermeditasi Om Lipus mampu melatih diri untuk fokus, mengolah emosi, mengurangi dan mengontrol rasa marah, serta puncaknya ialah sarana perjumpaan dengan Tuhan.

Hal demikian tidak berarti saya mempengaruhi frater TOR untuk masuk sebagai anggota THS. Tetapi, pesan di baliknya ialah setia dan terus berjuang mencari Tuhan yang memanggil kita secara khusus lewat meditasi (membaca dan merenungkan Kitab Suci). Karena inilah kekutan terbesar kaum berjubah yang harus dipegang teguh di mana dan kapan pun.

    Satu pesan terakhir Om Lipus untuk para frater TOR tahun ini sebelum menerima jubah yang telah dijahitnya yakni para frater harus tetap menjaga panggilan imamat yang telah dicita-citakan sejak kecil, tetap mengandalakan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup entah sebagai imam maupun awam. Baginya menjadi imam itu panggilan yang mulia yang perlu dipersiapkan sejak dini sehingga mutu seorang imam betul-betul dan sungguh dibutuhkan oleh umat apalagi di zaman milenial ini.

*    *      *    *     *

Jubah itu suci

    Berjubah putih oleh kalangan rohaniwan merupakan pakaian rohani yang melekat dengan status pelayan Gereja sebagai orang yang dipanggil secara khusus untuk bersekutu dalam karya penyelamatan Kristus. Biasanya, kaum berjubah dikenal sebagai orang-orang yang hidup dalam ketekunan doa, dan karya kegembalaan. Dalam mengembangkan misi pastoral Gereja, kaum berjubah senantiasa dituntut menjadi garda terdepan bagi pertumbuhan iman umat Katolik, sekaligus menjadi tameng yang kokoh sebagai apologet (pembela) masa depan iman Gereja Katolik. Kaum berjubah akan berhadapan dengan realita iman umat, keadaan pastoral masa kini yang penuh tantangan di zaman multidigital. Tak dapat disangkal kaum berjubah pun menjadi sorotan umat. Kasarnya: ‘Selebritis Gereja’ yang setia dinanti-nantikan, dielu-elukan, dibangga-banggakan oleh keluarga, tetangga, sahabat, serta umat paroki yang kelak berada bersama para frater waktu liburan nanti.

   Saya yakin bahwa perspektif umat tentang kaum berjubah ialah orang-orang yang secara jeli menguasai segala sesuatu alias serba bisa di berbagai medan pelayanan serta menguasai hidup iman Katolik terkait tradisi liturgi Gereja secara dekat maupun hal-hal praktis lainnya seperti, memimpin ibadat hari minggu, ibadat kematian, mempersiapkan perlengkapan liturgi, dll. Umat tidak mempersoalkan para frater sudah menempati tingkat berapa, atau sudah berapa lama telah menjadi frater. Semua itu tidak menjadi petimbangan mereka untuk takut atau malu meminta pelayanan rohani para frater. Hal mutlak ialah “kaum berjubah harus bisa melayani umat”. Lantas bagaimana persiapan para rater TOR menanggapi anggapan umat yang demikian?

    Makna yang perlu digali dan diperdalam dari secuil refleksi jubah di atas ialah seberapa dekatkah saya dalam melekatkan serta menyelaraskan status jubah yang putih nan mengkilap dengan buah dari proses membina dan dibina di lembaga calon imam yang tercinta ini. Sebagai representasi kaum berjubah lainya (para imam, kakak tingkat, dan formator), apakah saya sanggup bertaruh sekaligus mewujudkan impian dan motivasi murni untuk setia mencintai jubah sebagai pakaian rohani, dan suci karena sudah diberkati ini, bukan sebagai aksesoris tanpa makna. Ingatlah bahwa jubah telah memateraikan para frater dengan Kristus. Inilah fokus hidup panggilan ke depan. Inilah kekuatan terdasyat para frater sebagai pewarta Injil Kristus yang sarat akan hidup kemanusiawian, kerohanian, intelektual, dan pastoral meski para frater masih berproses di dalamnya. Akhirnnya kecintaan pada jubah hendaknnya diiringi dengan rasa penuh tanggung jawab dalam seluruh rangkaian hidup pada tingkat-tingkat berikutnya hingga kedewasaan para frater menuntut pilihan pasti untuk menjadi imam atau sebaliknya.

                                                           *      *       *       *      *

Makna Kelahiran Baru

     Arti harafiah kata ’kelahiran’ ialah menjadikan, menimbulkan, dan menghadirkan. Sedangkan kata ‘baru’ berarti sesuatu yang sebelumnya tidak ada, belum pernah ada, lawan lama serta bersifat memperbaharui dan memperbaiki hal lama. Dari rincian arti ini terkandung satu pengertian bahwa ‘kelahiran baru’ merupakan proses menghadirkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya atau tidak ada sebelumnya untuk diadakan dan dinyatakan. Maksud dari kehadiran baru ialah mempertegas eksistensi diri yang telah melekat dalam diri saya sendiri. Di sini faktor penentu keputusan saya untuk tetap berkutat dalam jalan panggilan ini ialah  menyadari bahwa saya dipanggil oleh Tuhan secara khusus. Inilah keistimewaan bagi saya di hadapan Dia yang memanggil. Untuk itulah saya memilih untuk memulai cara hidup baru yang lebih dikuasai dan diarahkan oleh hal-hal yang mendukung pertumbuhan hidup layaknya seorang frater. Dan tetap mempertahankan hal-hal positif yang sudah ditanam dalam diri saya. Dengan mentalitas demikianlah saya dituntut untuk terbuka dan jujur pada panggilan calon imam yang akan berlanjut ini.

     Sejak mengawali masa Tahun Orientasi Rohani di tempat ini ada satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya: Mengapa para frater diosesan harus bertahan dan berjuang selama sepuluh bulan sebelum menerima jubah? Satu hal yang saya banggakan di masa TOR ini ialah membuka peluang bagi saya untuk mempersiapkan diri agar lebih matang dalam aspek kerohanian (hidup doa, meditasi, Ekaristi, dll). Dengan maksud menguatkan benih panggilan yang saya tempuh ini untuk memilih jalan pasti bagi saya agar dijalankan dengan penuh bebas dan tanggung jawab. Hingga pada puncaknya ialah kesiapsediaan mengenakan jubah suci, yang telah dirindukan, dinantikan, diharapkan, dan dicita-citakan sejak kecil ataupun sejak Seminari Menengah. Tentu bukan dengan perjuangan yang abal-abal, bukan?

    Mengapa ada kelahiran baru bagi saya yang hendak mengenakan jubah ini? Pertanyaan ini menukik saya untuk lebih dalam bertanya: ”Apa yang dikehendaki oleh diri saya sendiri, jika sudah mengenakan jubah ini setip waktu nantinya?” Apakah nanti saya mengenakan jubah tersebut dengan motivasi yang kurang murni bahkan bergeser dari motivasi awal sebagai frater? Ataukah dengan mengenakan jubah semacam ucapan ‘welcome’ bagi saya untuk memulai suatu kompetisi, awal pergolakan batin dan pemurnian motivasi panggilan pada tingkat berikutnya untuk pembaharuan, dan perbaikan diri dari sikap dan perilaku lama yang bersifat menghambat, sekaligus hendak menjerumuskan saya pada jalan yang seharusnya saya hidupi ke tingkat berikutnya.

    Kelahiran baru menantang saya untuk tidak perlu cemas dan takut pada tantangan dunia yang serba instan ini, sejauh saya tetap berpegang teguh pada prinsip kelahiran baru. Secara otomatis saya dapat memenangkan atau mematahkan dorongan iblis yang begitu kuat setiap saat, yang tidak menutup matanya untuk menggoyahkan, meleburkan dan mengganggu jalan panggilan saya yang suci ini. Kekuatan yang selalu saya pegang erat ialah mengikuti jalan yang sudah sepantasnya dan benar-benar menjamin kedewasaan saya dalam mengikuti Kristus selaku Guru teladan.

    Di akhir refleksi ini, saya mengajak teman-teman frater TOR untuk sekali lagi mereview dan melihat sejauh mana pencapaian-pencapaian yang telah kita mimpikan selama berada di masa TOR ini, dan hal mana yang belum kita capai?.Apakah memuaskan hati kita ketika berada di masa TOR? Ataukah sebaliknya? Apa saja pengalaman yang menarik untuk dibawa, dipelajari dan dihidupi terus hingga pada tingkat berikutnya?

“Tuhan….! Apakah benar jubah yang Engkau kenakan padaku layak dan menjadi materai permanen antara Aku dan Engkau?.”

Post SebelumnyaDiskusi Buku Sastra (Kelompok Minat Teater Tanya)
Post SelanjutnyaCatatan Liburan: Dia Yang Mendengarkan Tidak Akan Menuntut Pengelihatan Agar Percaya