Catatan Liburan: Rumah Baca

RUMAH BACA

By. Daniel Harisno 

(Tingkat VI Keuskupan Maumere)

 

Liburan kali ini terasa sangat lama dari biasanya. Sejak bulan April sampai dengan Agustus, saya harus menghabiskan waktu di rumah. Perjalanan liburan pun hanya  bisa dibuat secara virtual saja dengan Facebook atau whatsapp. Sebelumnya, saya tidak selalu menyukainya karena itu sungguh-sungguh tidak natural. Setidak-tidaknya ketika ada orang yang tidak pernah tersenyum di dunia nyata, tetapi selalu mengirim pesan hahaha, hehehe, atau hihihi di dunia yang hanya dibatasi dengan layar kaca ini. Hanya saja saya pernah membaca sebuah status yang cukup menyeramkan sih . Kira-kira itu terdengar seperti ini:  pada masa pandemi corona setidak-tidaknya komentarlah satu atu dua kali di medsos agar teman-teman mu tahu kalau engkau masih hidup.  Ssssttttttttttt ada-ada saja.

Untuk waktu yang lama ini, saya pun tidak bisa pergi kemana-mana; tidak bisa mengunjungi teman-teman atau pergi ke rumah kerabat. Bahkan, saya pun tidak bisa pergi ke gereja dan hanya merayakan misa di radio tua yang lebih banyak menyiarkan bunyi mesin yang gaduh dan sangat menjengkelkan. Di rumah, saya hanya membaca buku atau berpindah ke kotak pensil dan menggambar. Lalu, saya akan bermain gitar dan sebagian lagi tidak jelas atau  lebih tepatnya, saya tidak ingat lagi, mungkin karena itu tidak penting. Terakhir, hal-hal semacam ini akan terulang lagi pada keesokan harinya dan saya akan terjebak disana selama 120 hari atau 2880 jam yang sangat panjang. Untunglah, saya masih bisa terhibur dengan suara perempuan di radio tua  yang mengatakan jangan ke luar rumah, kalau tidak ada hal yang mendesak. Saya menganggapnya tidak ada kontak plus social distancing. Jadi,  aman dari virus Corona.

Sama halnya dengan di China, Italia, Amerika Serikat, dan negara-negara di belahan dunia yang lain, disini pun orang-orang ketakutan dengan virus yang berawal dari negeri tirai bambu tersebut. Ada beberapa sektor kehidupan yang padam dan hanya menyisakan gedung-gedung yang semakin kotor dan tidak terurus. Dalam bercerita tentang gedung-gedung ini, saya baru saja mengalami untuk pertama  kalinya, kalau gedung-gedung sekolah dasar, TK, dan Paud dapat beristirahat lebih lama, libur lebih panjang dari pada gedung-gedung perguruan tinggi.  Kebetulan saya tinggal di tengah kota Maumere, sehingga gedung-gedung sekolah dari Paud sampai dengan perguruan tinggi tidak terlalu sukar ditemukan. Biasanya musim liburan panjang selesai pada bulan juli dan jalan-jalan, serta kos-kosan di kota Maumere mulai ramai dengan anak-anak sekolah, tetapi kali ini jalan-jalan masih sepi dari seragam merah-putih ataupun putih biru. Tidak pernah ada keterangan yang  pasti kapan jalan-jalan dan gang-gang akan ramai lagi dengan suara-suara yang berbicara tentang rantai makanan atau benalu yang masuk di rantai makanan yang mana?

Konon, orang-orang China mempunyai pepatah bahwa kunci untuk mengatasi persoalan-persoalan adalah pengetahuan tentang persoalan tersebut. Tidak mengherankan kalau China lebih dahulu mengumumkan kemerdekaannya mengatasi penyebaran virus corona. Ya, sedikit saja pengaruh pepatah kuno itu disini karena sudah tiga bulan tidak ada sekolah, tidak ada pelajaran dan anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain dan berlari sampai akhirnya mereka lelah dan tertidur. Beberapa kali saya melewati anak-anak yang sedang bermain ini dan entah mengapa berpikir bahwa mereka mungkin sudah tidak ingat lagi nama sekolahnya, guru-gurunya, atau sudah lupa bahwa 1+1=2. Walaupun begitu, saya tidak ingin singgah dan bertanya untuk sekedar  memastikannya. Boleh jadi saya akan terlihat sangat angkuh dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Apalagi daftar her ujian semester ini pun masih simpang-siur, takutnya ada yang balik bertanya: kamu tahu nggak kalau mau lulus itu  minimal membutuhkan nilai D?

            Tidak ada satu bayangan padaku untuk menolong anak-anak tersebut, tetapi anehnya hal ini terjadi begitu saja. Kira-kira  pukul 16.00 Wita, dari kejauhan saya mendengar suara anak laki-laki dan perempuan yang bersahut-sahutan menjajakan pisang goreng. Saya tidak memanggil, tetapi mereka datang dan menghampiri saya. Salah seorang anak laki-laki mungkin pemimpin mereka mendekat dan menyatakan bahwa mereka ingin meminjam dan membaca buku. Kebetulan saja di rumahku ada rak buku yang cukup tinggi, kira-kira hampir menyentuh atap rumah, cukup kuat dan tiang-tiangnya  terbuat dari besi. Kebanyakan buku-buku ini merupakan sumbangan dari teman-teman yang tergabung dalam kelompok  Buku Bagi Bagi NTT. Setiap bulannya,  mereka selalu mengirimkan buku ke alamat jln. Wairklau, Kabor B4 atau singkatnya rumah kami untuk disalurkan ke taman-taman baca yang ada di Maumere.  Bukunya pun menarik dari buku-buku pelajaran, buku-buku menggambar, cerpen, novel, ensiklopedi, komik, dan majalah anak-anak.

            Saya sendiri tidak tahu dari mana anak-anak itu mengetahuinya, mungkin karena saya menghabiskan banyak waktu di Asrama dari pada di rumah. Jadi, saya tidak mau dan tidak ingin tahu. Saya langsung mengajak dan menghantar mereka ke tempat buku-buku tersebut dipajang. Kemudian terjadilah kisah nyata seperti semut-semut yang datang dan menghabisi remah-remah yang jatuh dari meja. Dalam keadaan yang terbatas, semakin banyak anak-anak yang  setiap harinya datang untuk meminjam dan membaca buku. Akhirnya, saya mempunyai tugas baru mengawasi dan mendampingi anak-anak ini dan buku-buku mereka. Barangkali dari bacaan di luar sekolah, mereka bisa menemukan sesuatu yang berharga, mungkin mengetahui kalau bumi yang mengelilingi matahari, bukan matahari yang mengelilingi bumi,. Sudah sejak lama juga Thomas Alpha Edison tidak pernah sukses di kelas, tetapi bacaan-bacaan di luar sekolah menghantarnya menjadi penemu lampu pada tahun 1874. Sejak saat itu malam tidak lagi menakutkan bagi sebagian besar orang.  Ya, itu sedikit saja tentang pengalaman liburan dan bagiku rumah baca akan menjadi kenang-kenangan yang  akan menjadi awal yang baik untuk anak-anak itu.

 

Post SebelumnyaDiskusi Buku Sastra (Kelompok Minat Teater Tanya)
Post SelanjutnyaLomba Penulisan Feature Dalam Rangka Memperingati 65 Tahun Seminari Ritapiret