Catatan Liburan: Mata, Air Mata, dan Kacamata

Mata, Airmata, dan Kacamata

 

Oleh: Fr. Alfonsus Hada Boruk (Calon Imam Keuskupan Larantuka)

 

Mata mulai berkaca-kaca. Alunan instrumen lagu “Yesusku Kau kucinta” mengalir lancar. Semakin dalam dinyanyikan semakin banyak airmata tergenang. Tak! Kaca pecah dan airmata mengalir deras. Begitu banyaknya airmata kala itu sebanyak bahagianya saya pada hari itu. Airmata sebanyak ini pasti juga membanjiri mata mama kalau saja ia hadir saat ini, pikir saya. Kisah Minggu, 3 Mei 2020 adalah kisah kerinduan pada jubah dan mata yang melihat kebahagiaan ini.

Perjalanan Senin, 4 Mei 2020 sangat membahagiakan tetapi juga menjengkelkan. Bayangan tentang sambutan keluarga membuat perjalanan pulang ke rumah menjadi sangat menyenangkan. Namun protokol covid-19 membuat perjalanan ini semakin panjang dan lama. Tiba di rumah seharusnya jam sebelas siang kini menjadi jam lima sore. Kendatipun demikian saya tetap merasa senang bisa kembali ke rumah bertemu keluarga dan terutama dengan membawa jubah putih.

Saat itu situasi di kampung sedang ramai ketika saya pulang. Maklum orang kampung baru pulang dari kebun. Satu tarikan nafas lagi, dua, tiga tarikan dan saya telah tiba di rumah dengan selamat. Saya melihat bapa tersenyum lebar menyambut kedatangan saya. Kemudian saya langsung masuk rumah. Mama ada di dapur sedang duduk menunggu saya. Saya mendekat dan memeluk serta mencium mama. Rupanya itu tidak cukup bagi mama. Ia duduk dan meminta saya duduk di pahanya. Saya dipangkunya dan dibelai. Dengan girangnya mama bilang, “Eee, me aa’un gete ba’a ete ia. Ema meten au aanak laen, padahal au gete ba’e nong. Ema gita au iwa ba’a ko ema bisa raitan au gete ba’a niko raman poin ganu ete" ("Aduh e anak saya ini ternyata sudah besar. Mama pikir kau masih kecil, padahal kau sudah besar ee No. Mama sudah tidak bisa lihat kau lagi tapi dengan meraba seperti ini saya bisa tahu.”). Tak lama kemudian saya membuka tas dan

dengan bangga menunjukkan kepada mama jubah baru saya. Saya berharap jubah yang berwarna putih itu dapat dilihatnya. Sayang, Mama hanya meraba dan bertanya “Apa ini?” Ketika saya katakan “Ini jubah saya”, mata Mama hanya alirkan arimata. "Aduh Tuhan e," betapa sakitnya hati ini. Kegembiraan yang saya bawa nyaris hilang saat itu juga. Dari Ritapiret saya berharap Bapa dan Mama akan sangat senang melihat jubah ini namun harapan itu hanyalah sebuah ilusi. Mama tidak bisa melihat dengan jelas kepada saya dan jubah kerinduan yang amat saya banggakan itu. Lalu kapankah Mama bisa melihat lagi dengan jelas sehingga jubah putih itu pun bisa dilihatnya? Mama butuh kacamata!

Beberapa hari lalu saya melihat mama menangis. Air matanya menghiasi bola matanya yang kini hampir tak berfungsi sama sekali. Katanya, ia sangat bersedih karena tidak bisa melayani saya makan dan urusan lainnya sebagaimana biasanya. Beberapa kali ia menjerit kesakitan karena tangannya menyentuh bara api di tungku lantaran memaksakan diri memasak untuk saya.

Baru-baru ini Mama dan Bapa sempat ke rumah sakit, namun mata mama belum tertolong. Ia pernah membeli kacamata tetapi tidak membantu. Lalu di mana salahnya?

“Mengapa harus mata? Mengapa tidak telinga biar tuli saja? Seharusnya saya tuli saja. Seharusnya mata saya tidak begini agar bisa ke mana-mana bekerja khususnya untuk anak saya ini,” keluh Mama. Benar juga, lebih baik tuli dari para buta, pikir saya. Lalu kenapa mama dapatkan buta dan bukan tuli? Mata yang dipakai untuk melihat kini harus kabur bahkan tak melihat sama sekali. Sementara telinga yang dipakai hanya untuk mendengar dan kini diharapakan dialah yang terganggu kini masih baik sekali. Apakah ini berarti Ia yang memberi penglihatan mau agar manusia lebih banyak mendengarkan dari pada melihat? Lalu mata yang sudah buta itu yang terus ditemani airmata sebetulnya membutuhkan kacamata atau telinga?

            Saya juga mengeluh. Saya merasa belum terbiasa bekerja untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain. Saya sudah terbiasa dilayani oleh mama. Dan kalau sekarang mama telah sulit melihat lalu siapakah yang mesti melayani saya? Sebab kebutaan mama membuat saya kehilangan sosok pemerhati. Saya merasa seperti para murid yang ditinggalkan oleh Yesus. Tetapi justru seperti para murid, saya diberi satu tugas mengenai panggilan ini.

            Tugas itu, saya sadari, membantu saya untuk mandiri. Jubah ini menuntut saya untuk bisa buat apa saja dengan daya sendiri. Mama sebagai kekuatan andalan saya selama ini kini tidak banyak berbuat untuk saya lagi. Tugas pelayanannya sekarang menjadi tanggungjawab saya. Saya mesti bisa bekerja untuk diri sendiri. Saya mesti terbiasa melayani diri sendiri. Ini yang namanya panggilan. Panggilan mesti diawali dengan persiapan diri, dan kemudian mempersiapkan orang lain. Kebutaan mama sebetulnya adalah jalan menuju panggilan saya, bahwa saya dipanggil untuk bertanggungjawab atas hidup yang diberikan ini.

           kenyataan ini juga menghendaki saya untuk mulai berbalik melayani mereka. Bukan hanya pada diri sendirilah saya bertanggung jawab, melainkan juga diri orang lain. Pengalaman ini membuka mata saya untuk melihat rumah kami ini juga sebagai rumah pembinaan. Kebutaan mama memotivasi saya untuk terus membina diri di sini dengan spirit pelayanan. Mama telah menjadi formator hebat bagi saya di sini. Matanya sudah memperlihatkan keajaiban dalam ziarah panggilan saya. Air matanya telah mengalirkan kehendak sang Guru dalam diri saya, “Hendaklah kamu saling melayani satu terhadap yang lain.” Terima kasih Mama.

 

 

Post SebelumnyaDiskusi Buku Sastra (Kelompok Minat Teater Tanya)
Post SelanjutnyaPengumuman Untuk Mahasiswa Baru STFK Ledalero 2020/2021 (Konvik Ritapiret)