Catatan Liburan: Dia Yang Mendengarkan Tidak Akan Menuntut Pengelihatan Agar Percaya

Dia Yang Mendengarkan Tidak Akan Menuntut Pengelihatan Agar Percaya

(Refleksi Penglaman Pekan Suci Masa Sekolah Dari Rumah)

Oleh: Fr. Alfa Atagoran (Calon Imam Keuskupan Larantuka)

             Sore di hari Rabu, 8 April 2020, saya tiba di kampung halaman setelah perjalanan yang cukup melelahkan dari Ritapiret. Jalanan lengang, pos kamling sepi, tidak ada suara tawa anak muda yang berkumpul, pun ibu-ibu yang membersihkan komplek dusun. Saya segera sadar bahwa aktivitas selama pulang kampung kali sungguh sangat berbeda, lebih dari yang saya bayangkan. Tidak ada lagi aktivitas berkumpul, tidak ada lagi keramaian, tidak ada lagi hal yang ceria. Rabu Trewa kami jalani dari rumah masing-masing.

            Oh, iya, tidak ada ibadat di kapela. Ibadat dipandu dengan pengeras suara dari rumah tetangga kami. Topografi kampung kami yang berbukit dan lembah tidak memungkinkan ibadat dipandu dari kapela. Toa yang dipasang butuh tempat yang jauh lebih tinggi agar suara pemandu ibadat dapat didengar oleh semua umat stasi. Ibadat malam lamentasi berjalan khusyuk. Silentium magnum menyelimuti seluruh sudut stasi kami. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat walaupun kampung kami dibelah oleh jalan trans Waiwerang-Waiwadan yang setiap harinya selalu ramai, tengah malam sekalipun. Malam ini benar-benar sunyi. Tidak ada suara lain selain suara ibadat lamentasi dari sepasang toa besar di rumah tetangga. Suasana haru biru meliputi kami semua. Rasa kehilangan, penyesalan, dan doa-doa pribadi turut mewarnai suasana ibadat lamentasi kami.

            Selain memberi makan hewan-hewan peliharaan di pinggir dusun dan kebun-kebun, tidak lagi ada aktivitas luar rumah di kampung kami. Kamis Putih dan Jumat Agung yang khidmat berhasil membuat sebagian besar umat stasi meneteskan air mata ( hal ini saya tahu setelah pekan suci berakhir). Semuanya sedih dan murung. Bahkan salah satu pemimpin ibadat kami harus beberapa kali keluar masuk rumah tempat ibadat dipandu karena tidak tahan dengan suasana sedih selama ibadat dalam ketakutan akan wabah virus yang belum juga berhenti menyerang seluruh dunia.   

            Perayaan Sabtu Suci dengan iringan lagu-lagu Paskah dari para solis membuat suasana kabung tiga hari sebelumya berubah. Ada wajah ceria dari para petugas ibadat malam Suci ini. Setelah ibadat selesai, mulai terdengar satu-dua speaker aktif memutar lagu-lagu Paskah dengan volume sedang. Suasana Paskah sudah mulai tampak. Mulai terdengar suara tawa di rumah-rumah umat. Di rumah lain suara ramai telepon ucapan selamat menyongsong Paskah di tengah malam Suci yang dingin.

            Keramaian dan kemeriahan stasi kami mencapai puncaknya setelah ibadat Hari Raya Minggu Paskah. Lagu-lagu Paskah dan lagu gembira lain diputar di semua speaker aktif dan salon-salon dengan volume maksimum. Ada rona bahagia bercampur haru tampak pada wajah semua umat. Bahagia karena masa Prapaskah dan Hari Raya Paskah ini dijalani dengan baik, haru dan sedih karena kegiatan ibadat dan acara profan bersama yang telah menjadi sebuah tradisi harus ditiadakan untuk sementara ini.

            Pengalaman pulang dan melaksanakan kegiatan sekolah dari rumah ini sungguh berbeda. Dalam pekan suci April 2020 ini, saya mendalami pengalaman religius yang tidak sempat saya alami serta dalami di Seminari Tinggi. Saya alami bahwa inilah saatnya ketika ajakan “marilah kita ke gunung Sion, ke hadirat Allah Yakub” berubah menjadi “satu-dua orang berkumpul dalam nam Tuhan”. Ibadat dari rumah dengan memori keramaian dan kebersamaan di kapela hampir mirip dengan suasana ratapan nabi Yeremia yang melihat kehancuran negeri Israel, termasuk Bait Allah. Selama ini kita pergi beramai-ramai ke rumah Tuhan untuk berjemaat berdoa kepadaNya. Sekarang kita tinggal di rumah dengan altar mungil menunggu dan mengalami kehadiran Tuhan dengan partisipasi rohani dalam ibadat yang dipandu dengan pengeras suara. Kita telah mengunjungi Tuhan, dan sekarang adalah saat yang tepat untuk “kunjungan balasan’ dari Tuhan. Kita yang telah melawatNya akan dilawat.   

             

Post SebelumnyaDiskusi Buku Sastra (Kelompok Minat Teater Tanya)
Post SelanjutnyaYang Berjubah Adalah Mereka Yang Harus Mewartakan Cinta