REKOLEKSI BULANAN PARA FRATER RITAPIRET

Membuka Kesadaran Reflektif

dalam Memaknai Masa Prapaskah

 

CANDELA, (20/02) -  Segenap anggota komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret mengadakan kegiatan rekoleksi bulanan dan ibadat tobat dalam memasuki masa prapaskah. Kegiatan ini terjadi di dalam kelompok kelas masing-masing. Setiap kelas mengadakan rekoleksi dan ibadat tobat di ruangan yang telah dibagikan. Tepat pukul 18.00, kegiatan pertama (rekoleksi bulanan), dimulai. Tema utama yang diangkat ialah pemaknaan akan masa prapaskah.

“Harus ada kesadaran reflektif untuk menyesali segala kesalahan dan dosa kita,” demikian ungkap RD. Polce membuka kegiatan rekoleksi untuk para frater tingkat I. Narasi Injil (Mat 4:1-11) tentang pencobaan di padang gurun, menjadi titik tolak pendalaman rekoleksi. Menurut RD. Polce, terdapat tiga metode yang digunakan setan untuk menggoda Yesus. Pertama, setan menggoda Yesus tatkala Yesus dalam keadaan lemah dan lapar. Kita kerap kali terperangkap dalam metode setan ini. Kita mengabaikan urusan lain yang lebih penting demi memuaskan dahaga dan keinginan kita. Jawaban Yesus membuka mata hati kita bahwasanya bukan dari roti saja kita hidup, melainkan juga dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Kedua, setan menggoda Yesus untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah demi membuktikan bahwa Yesus sungguh anak Allah. Jawaban Yesus mengajarkan kita bahwa panggilan hidup tidak untuk disombongkan. Ketiga, setan menggoda Yesus untuk menyembahnya dengan iming-iming kerajaan dunia dan kemegahannya. Kita sering jatuh dalam godaan semacam ini. Motivasi mengejar kekayaan dan kesempurnaan membuat kita gelap mata, tumpul nurani. Yesus dengan tegas mengungkapkan bahwa satu-satunya jalan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki ialah dengan menyembah Allah dan kepada Dia sajalah kita berbakti.

RD. Polce juga menyinggung tema surat gembala Keuskupan Maumere. Dalam surat gembala itu, Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Pr  mengimbau seluruh umat Keuskupan Maumere untuk semakin beriman dan bersolider. “Beriman berarti tetap menjadikan Allah sebagai pusat dan sumber suka cita dan keselamatan. Bersolider berati keluar dari zona nyaman dan prestise pribadi untuk melayani sesama.” Ujar RD. Polce membahasakan isi surat gembala itu.

Di akhir rekoleksi itu, RD. Polce kembali mengajak seluruh frater untuk merefleksikan segala salah dan dosa sembari mengambil langkah konkret dalam memaknai masa prapaskah.

Ibadat tobat dilakukan setelah kegiatan rekoleksi. Setelah ibadat tobat, para frater dihimbau untuk menjaga keheningan hingga keesokan harinya.

**Fr. Tevin Lory

Post SebelumnyaMisa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret
Post SelanjutnyaWORKSHOP OLAH VOKAL DAN DIRIGEN