Misa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret

Abu di Dahi: Puasa dan Pantang bagi Komunitas Ritapiret

 

Rabu, 26/02/2020, Komunitas Ritapiret menggelar perayaan Ekaristi penerimaan Abu di Kapela Agung Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Perayaan ini dipimpin oleh Rm. Polce Lewar yang didampingi oleh Romo Praeses Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret dan Para Formator lainnya. Durasi perayaan ini berlangsung dari jam 5:45 sampai jam 6:30 WITA. Hadir dalam perayaan tersebut, para suster dari Konggregasi OSF, Para Frater Skolastik dan Tahun Rohani, Karyawan-karyawati dan umat di sekitar Kompleks Ritapiret.

Para frater skolastik hadir dengan kostum rohani yang lengkap yakni jubah putih. Dalam pantauan Sie Publikasi, terlihat wajah khusuk para Frater dalam mempersiapkan diri menerima Abu. Di sana ada kerinduan yang memancar dari raut wajah mereka dan umat yang hadir akan nuansa syahdu dari sebuah ziarah tobat empat puluh hari ke depan.

Dalam perayaan tersebut, pengkotbah Fr. Benny Jata mengingatkan pentingnya tobat yang berdaya transformatif bagi setiap orang. Co-Socius (teman/pendamping pembantnu) tingkat IV ini menegaskan bahwa abu yang kita terima adalah sebuah kenangan untuk dapat membaharui hubungan kita dengan Allah. “Abu yang disematkan di dahi kita membawa kita kembali kepada Tuhan, membaharui komitmen kasih kepada Tuhan dalam rupa tobat. Dengan kata lain, saat penerimaan abu adalah saat untuk mengandalkan Tuhan di dalam hidup,” ungkap pria yang akrab dipanggil Fr.  Raffy. Calon imam dioses Agung Ende ini juga tak lupa menitipkan pertanyaan reflektif kepada umat yang hadir yakni sudahkah para Frater dan semua yang hadir mempersiapkan diri untuk berbalik kepada Tuhan?

Perayaan rabu Abu sebenarnya adalah perayaan pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6). Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”

Abu adalah tanda kerapuhan manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dan dosa. Kita memulai masa tobat dengan berpuasa, bermatiraga, beramal kasih dan meningkatkan kehidupan doa. Masa puasa adalah masa kita berbenah diri dan hidup kita sebagai orang beriman.

Kesempatan secara khusus untuk lebih menahan diri dari segala kesenangan dan kenikmatan, untuk terus berbuat amal dan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan, sesama, lingkungan dan diri sendiri.. Puasa sejati adalah membangun pertobatan dengan mengoyakkan hati, membangun sikap batin dengan meninggalkan hal-hal buruk dalam hati dan dalam sikap hidup sehari-hari. Maka, pertobatan adalah proses mencapai kesempurnaan hidup Kristiani melalui perbuatan amal kasih, melalui doa dan puasa.

Intisari bacaan Suci dalam perayaan ini adalah sebuah ajakan untuk memanfaatkan saat ini sebagai saat rahmat dan berkat kembali kedalam belaskasih Allah karena Allah adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Sebagaimana Yoel dalam bacaan pertama mengajak, “sekarang, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan mengaduh” Yang diminta adalah sekarang, saat ini. Inilah saat yang penting, saat rahmat, saat keselamatan. Maka dengan nasehat Rasul Paulus dalam bacaan kedua agar kita memberi diri untuk didamaikan dengan Allah. Masa tobat adalah masa dimana kita dengan penuh kerendahan hati dan berani untuk memberi diri didamaikan dengan Allah. “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah” “Jangan membuat sia-sia kasih karunia Allah yang telah kamu terima”. “Camkanlah, saat inilah saat perkenaan itu, hari inilah hari penyelamatan itu”, demikian tegas Rasul Paulus. Maka, butuh keberanian dan kerendahan hati.

Yesus lebih radikal mengingatkan agar kita lebih hati-hati dalam menjalankan kewajiban agama kita sebagai orang beragama dan beriman. Jangan suka pamer agar dilihat orang, tingkatkan aktus memberi sedekah, berdoa dan berpuasa. Semua tindakan ini harus dijalankan dari hati dan dengan hati, dan hanya demi kemuliaan Tuhan. Semua ungkapan lahiriah harus keluar dari ketulusan hati, dari kerendahan hati dan dari kesungguhan hati, tanpa ada maksud tersembunyi dalam semua praktek keagamaan itu. Mengapa? Karena “Bapa yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”. [RT & AF]

 

 

Post SelanjutnyaTurnamen Bola Voli Fratres Ritapiret