MISA RABU ABU DI SEMINARI TINGGI INTERDIOSESAN RITAPIRET

Rabu Abu: yang Sederhana dan Terbatas

 

 Hari Rabu Abu  menjadi momen yang amat berahmat sekaligus berharga bagi segenap umat kristiani di seluruh dunia. Berharga dan berahmat-nya hari itu, boleh dilirik dari nuansa perayaan Rabu Abu sendiri yang menjadi pintu masuk bagi alur kehidupan rohaniah kaum kristiani ke masa Prapaskah dan Paskah.

Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret pada Rabu, 17 Februari 2021,  turut menjumput ke-berharga-an dan nuansa berahmatnya hari Rabu Abu itu. Segenap warga komunitas mengalami perayaan hari Rabu Abu dalam Perayaan Ekaristi pagi hari di dalam kelompok-kelompok kecil: tujuh kelompok dalam kelas dan satu kelompok untuk komunitas Sta. Clara. Tata laksana Perayaan Ekaristi yang dibuat demikian, sebagai upaya untuk menghindari “konteks kerumunan” dalam merayakan Ekaristi di masa pandemi Covid-19.

Secara khusus, Perayaan Ekaristi hari Rabu Abu yang dilaksanakan dalam kelompok-kelas dua, dipimpin langsung oleh RD. Gabi Mane selaku pendamping untuk para fraterkelas dua sendiri. Perayan Ekaristi kelompok ini mengambil tempat di Aula Kecil St. Peter. “Skema Perayaan Ekaristi-nya dibuat sederhana saja, sebagaimana lazimnya dalam Perayaan Ekaristi harian. Hanya ada satu ritus yang ditambahkan dalam perayaan ini, yakni ritus pemberkatan dan pemberian abu”, jelas Fr. Jemy Jeradu selaku ketua Sie Liturgi panitia paska sekaligus ketua Sie Liturgi untuk kepengurusan fratres kelas dua. Sederhananya Perayaan Ekaristi Rabu Abu dalam kelompok kelas dua, juga merekah dalam pembatasan tindak liturgis nyanyiannya. “Saya kira pembatasan nyanyian untuk Perayaan Ekaristi hari Rabu Abu ini, sesuai dengan ketetapan Sie Liturgi rumah khususnya; serta hal ini sebagaimana mengikuti Perayaan Ekaristi ala protokol kesehatan Covid-19”, ujar Fr. Bayu Anse sebagai ketua Sie Musik Vokal fratres kelas dua dan ketua Sie Musik Vokal kepanitiaan paskah.

Dalam Perayaan Ekaristi tersebut, RD. Gabi menegaskan dalam renungannya, bahwasannya hari Rabu Abu, dengan adanya abu yang ditandai di dahi atau pun yang ditaburkan di atas kepala kita, merupakan sebuah tanda yang ingin menyadarkan kita akan status kelemahan dan kerapuhan manusiawi kita di hadapan Tuhan. RD. Gabi juga mengajak  anak-anak dampingannya, fratres kelas dua, bahwa momen hari Rabu Abu haruslah menjadi momen membangun niat-niat perubahan hidup (pertobatan) yang pertama-tama mesti dimulai dari kehidupan pribadi masing-masing dan hal itu, mestilah pula dijauhkan dari tindak kemunafikan. “Sekurang-kurangnya ada niat perubahan, pertobatan yang dapat kamu bangun hari ini; untuk kemudian dapat dijalankan dan dibentuk lebih jauh selama masa Prapaskah hingga Paskah nantinya. Niat-niat perubahan itu pertama-tama harus berawal dari diri masing-masing dan semunya itu, mesti terhindar dari segala bentuk kemunafikan, seperti sabda Yesus dalam injil hari ini”, tandas RD. Gaby dalam renungannya.

Perayaan Ekaristi hari Rabu Abu dalam kelompok-kelas dua tersebut, berlangsung kurang lebih 30 menit. Meski perayaan Rabu Abu itu dirayakan dalam situasi kesederhanaan – keterbatasan di tengah situasi pandemi, namun kebermaknaan nuansa sukacita perayaan tetap menampak riuh dalam diri para fratres kelas dua. “Meski Perayaan Ekaristi ini sederhana saja dan dirayakan dalam kelompok kecil, kami tetap merasakan nuansa sukacita hari Rabu Abu ini, sebagai saat awal masuknya kami di masa Prapakah dan masa Paskah nantinya”, ujar Fr. Ando Liko, Frater kelas dua.

 

**Fr. Bayu Tonggo

Post SebelumnyaMisa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret
Post SelanjutnyaPENYERAHAN JABATAN PANITIA PASKAH 2021