MENJUMPUT MAKNA “RAJA” DI HARI RAYA KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

Ritapiret, SP (22/11)--Perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam merupakan perayaan yang oleh Gereja Katolik ditempatkan pada Hari Minggu Biasa XXXIII / XXXIV, atau pun hari Minggu menjelang Hari Minggu I Adventus. Perayaan ini memiliki corak khusus sebagai tanda berakhirnya / penutup tahun liturgi Gereja dan menghadirkan kebermaknaan akan penghayatan iman akan Yesus Kristus sebagai Raja Semesta Alam.

Warna pemahaman dan penghayatan tersebut turut memayungi warga komunitas Ritapiret, tatakala merayakan Ekaristi Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam pada Minggu, 22 November 2020. Bertempat di Kapela Agung, Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin oleh Selebran, RD. Polce Lewar. Di awal kata pengantarnya, Romo Polce menekankan akan nuansa penghayatan Hari Kristus Raja itu sendiri. Bahwasannya, dalam menghayati Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, hal yang mesti dilihat dan mendapat tinjauan reflektif ialah dengan menilik sosok Yesus sebagai “Raja” yang adalah model dalam peziarahan hidup  di dunia.

Perayan Ekaristi Hari Raya Kristus Raja tersebut, mendapat kesan kemeriahan pula dengan hadirnya iringan nyanyian oleh Fratres Keuskupan Agung Ende. Dengan konduktor handal Fr. Pance Dhae, Fratres Keuskupan Agung Ende mampu menghantar umat komunitas Rita ke dalam pengahayatan yang lebih akan keberadaan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam.

Adapun penanggung Liturgi dalam Perayaan Ekaristi ini ialah Fratres Keuskupan Larantuka. Mereka pun turut menghadirkan sumbangsih pelayanan yang mampu memperlancar kemeriahan Perayan Ekaristi Hari Raya Kristus Raja tersebut.

RD. Polce sebagai Selebran, dalam kotbahnya menghadirkan pula pesan Perayaan Hari Raya Kristus Raja sebagai sebuah permenungan akan makna terminologi Raja yang diarahkan kepada Yesus Kristus. Bahwasannya, beliau menekankan term Raja yang disebut bagi Yesus, bukan dipahami dalam konsep politis, raja yang berkelimpahan harta dan kekuasaan. Term Raja yang diarahakan bagi Yesus Kristus ialah term yang (boleh) dilihat dalam makna salib. Konsep / term Raja yang melayani, menderita, dan mau siap sedia berkorban. RD. Polce menggarisbawahi pula poin terakhir tersebut, bahwa refleksi akan makna terminologi Raja itu, mesti hadir dan haru selalu dihidupi dalam keberlangsungan lajur hidup sebagai sebuah komunitas kebersamaan di rumah Rita ini.

Post SebelumnyaMisa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret
Post SelanjutnyaKEMBALI DARI LIBURAN, PARA FRATER JALANI PROSEDUR SANITASI CEGAH COVID-19