MENGHIDUPKAN MOTTO "LEARN TOGETHER KNOW TOGETHER" | RITA ENGLISH COFFEE

Aula Kecil Santo Petrus Ritapiret,- Kelompok Minat (KM) Rita English Club (REC) mengadakan diskusi lepas berbahasa Inggris (7/11/2020). Menurut Ketua KM REC Nano Balino, kegiatan ini sangat penting untuk melatih kemampuan berbicara bahasa Inggris di depan publik. Selain itu, melalui kegiatan ini semua anggota KM REC mampu belajar bahasa Inggris secara rileks dan santai. “Motto kami adalah ‘Learn Together Know Together’ dan kegiatan ini merupakan salah satu progran untuk mewujudkan moto kami”, tandas Nano Balino selaku ketua KM REC ketika ditanya tentang motto Rita English Club.

Proses diskusi lepas berbahasa Inggris ini berlangsung dalam suasana hangat, rileks dan penuh sukacita. Kegiatan ini dimulai tepat pukul 08.30 WIT dan diikuti oleh 17 orang anggota KM REC. Diinformasikan bahwa beberapa anggota tidak sempat hadir karena ada halangan khusus. Adapun beberapa rangkaian acara dalam kegiatan ini, yakni diawali dengan doa yang dipimpin oleh ketua KM REC. Selanjutnya, perkenalan singkat dari semua anggota KM REC dan menyusul diskusi bebas dengan tema yang telah ditentukan sambil menikmati makanan ringan dan minuman yang telah disediakan. Kegiatan ini kemudian diakhiri dengan doa penutup. Selama proses diskusi anggota KM REC dibagi ke dalam 4 kelompok dan dipandu langsung oleh ketua KM REC. Proses diskusi ini pun terdiri atas dua sesi. Sesi pertama, masing-masing kelompok disuguhkan tiga gambar, yakni Colloseum (Roma), Raja Ampat (Papua) dan Windmill (Inggris). Setiap kelompok diberi kesempatan untuk mengungkapkan dan memilih salah satu tempat wisata yang ingin mereka kunjungi dan hal apa saja yang akan mereka lakukan ketika sampai di tempat tersebut. “Ok as far as I know Colloseum is one of that place that have many violence. And I want to ask the member of group two why do you choose the place that have many violence expecially to the Christian?”, tanya Fr. Rian Lako menanggapi anggota kelompok dua yang memilih Colloseum sebagai tempat yang ingin mereka kunjungi. Fr. Rian bertanya mengapa kelompok dua memilih Colloseum yang notabene memiliki sejarah buruk, yakni tempat praktik kekerasan terhadap umat Kristen. Pertanyaan tersebut kemudian ditanggapi oleh Fr. Yoga bahwa bagi mereka faktor historis bukan alasan bagi mereka untuk tidak memilih tempat atau untuk tidak mengetahui sesuatu. Alasan mereka memilih Colloseum adalah terutama karena faktor struktur bangunan yang menarik dan panorama yang indah dan mengagumkan.
Pada sesi kedua setiap kelompok diberi satu topik untuk masing-masing kelompok, yakni sunrise (matahari terbit), sunset (matahari terbenam), sweet foods (makanan manis) dan hot foods (makanan pedas). Masing-masing kelompok bebas memberikan opini mereka terkait topik yang telah ditentukan. “Sunset ia beautiful. We can enjoy the sunset without spend some money. Sunset ia romantic time for the couple to share their love”, kata Fr. Riky Nusa dengan penuh percaya diri yang mengundang decak kagum dari seluruh anggota KM REC. Di samping topik tentang sunset, adapun hal unik tentang sweet foods. “Sweet foods dapat mengatasi rasa galau”, demikian kata Fr. Arys Gusi bertolak dari pengalamannya sendiri. Diskusi ini diwarnai oleh lontaran opini dan tanggapan yang semakin membuat situasi lebih akrab, rileks dan seru. Sesi kedua menjadi sesi penutup kegiatan REC hari itu. Menurut salah seorang partisipan KM REC Fr. Dero, kegiatan ini merupakan tanggapan atas kemampuan yang ada dalam diri setiap orang. Bahwasanya setiap orang memiliki kemampuan untuk berbahasa Inggris, tetapi belum ada sarana atau wadah untuk mendorong kemampuan berbahasa tersebut ke permukaan. Karena itu kegiatan ini penting untuk menyalakan api keberanian dan semangat berbahasa Inggris dalam diri setiap anggota KM REC. Sebelum mengakhiri kegiatan diskusi lepas berbahasa Inggris ini, Ketua KM REC Fr. Nano menyampaikan agar melalui kegiatan semua anggota KM REC diharapkan semakin berani berbicara bahasa Inggris di depan publik karena “kita belajar bersama untuk mengetahui bersama”.

Post SebelumnyaMisa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret
Post SelanjutnyaKETERLIBATAN GEREJA DAN POLITIK PATRONASE | DISKUSI ILMIAH SEMINARI TINGGI INTERDIOESAN ST. PETRUS RITAPIRET