MENGENAL HUMANA COMMUNITAS DAN IMPLIKASINYA BAGI FORMASI CALON IMAM


Saint Peter Hall (SPH),- Anggota Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret mengadakan sidang akademik pertama periode 2020/2021 di bawah tema Mengenal Humana Comunitas Dan Implikasinya Bagi Formasi Calon Imam pada Sabtu (17 Oktober 2020). Pemateri utama dalam kegiatan sidang akademik ini ialah RD. Epin Budiman, Socius Tahun Orientasi Rohani St. Yohanes Paulus II Ritapiret dan dibantu oleh dua kelompok penanggap (tingkat IV). Diskusi ini dipimpin langsung oleh Fr. Paping selaku ketua penyelenggara kegiatan diskusi.


RD. Epin dalam pemaparan materinya mengatakan bahwa Humana Comunitas diterbitkan sebagai sebuah pencarian, pergumulan, refleksi, peringatan, dan kritik sosial demi terciptanya sebuah tatanan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat manusia, terutama di tengah pandemi Covid-19 ini. Implementasi visi kemanusiaan universal yang hendak dicapai melalui solidaritas sosial merupakan landasan dasar yang mendorong Gereja, melalui Komisi Kepausan untuk kehidupan, menerbitkan Dokumen Gereja Humana Comunitas pada 22 Juli 2020.


Penjabaran lebih lanjut dari Humana Comunitas di atas terangkum ke dalam beberapa poin penting. Pertama, realitas keras pandemi Covid-19 yang mendatangkan prasangka dan kecurigaan yang sangat besar di antara sesama. Misalnya, saat bersin orang langsung mencurigai jangan-jangan orang tersebut terinfeksi Covid-19 sehingga hal ini kemudian dapat menciptakan ruang kosong atau jarak. Kedua, munculnya panorama kehidupan baru di kota metropolitan- dari keramaian berubah menjadi sepih. Realitas ini dalam bahasa Humana Comunitas adalah “jalan kosong”. Ketiga, pembatasan kontak sosial sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. Akibatnya ialah banyak orang mengalami frustasi, marah dan bingung.


RD. Epin kemudian, merefleksikan realitas keras pandemi Covid-19 di atas ke dalam beberapa hal, pertama bahwa dengan melihat jumlah korban covid-19 yang begitu banyak satu hal yang tidak dapat kita pungkiri yakni kerapuhan manusia dalam seluruh keberadaannya. Oleh karena itu, melalui Humana Comunitas, manusia diingatkan untuk tidak terperangkap ke dalam sikap sombong yang menganggap segala sesuatu yang telah dan akan terjadi berada dalam rencana kita.
Kedua, impian mustahil tentang otonomi dan pelajaran keterbatasan. Hal ini berkaitan dengan etika antroposentrisme, yang memandang manusia sebagai pusat dari alam semesta. Pemahaman dan cara pandang seperti ini menyeret manusia pada kesombongan yang mengklaim diri sebagai entitas otonomi dan berbeda dengan yang lain (alam). Oleh karena itu, Humana Comunitas hadir untuk memberikan pertimbangan kembali terhadap konsep etika antroposentrisme itu, antara relasi manusia dengan yang lain (alam itu sendiri).


Kedua, tantangan saling ketergantungan dan pelajaran tentang keteraturan bersama. Pandemi Covid-19 menghadirkan sejumlah tantangan besar, misalnya filsafat sosial yang picik dan sempit melahirkan rasa kecurigaan dalam relasi degan yang lain. Kenyataan ini dapat melahirkan sikap tidak bertanggung jawab terhadap keselamatan bersama.


Ketiga, menuju visi baru yaitu panggilan bermetanoia atau pertobatan. Pandemi secara mendasar menumbuhkan etos kehidupan untuk menggunakan kapasitas diri guna melakukan suatu pertobatan moral. Pandemi memberikan suatu titik terang kepada manusia untuk semakin rendah hati dan belajar mengubah cara pandang baru. Pertobatan pikiran dan hati manusia harus menjadi landasan utama yang memungkinkan terciptanya Humana Comunitas.


Selain itu, RD. Epin juga menyinggung soal solidaritas internasional. Humana Comunitas mengharapkan setiap Negara harus menanggalkan kepicikan dan nasionalisme yang sempit serta logika subsidiaritas dijadikan sebagai tameng yang mempertajam logika pemisahan antarnegara.


Poin terakhir materi dari RD. Epin yakni soal implikasi praktis dari Humana Comunitas ini. Dia mengatakan implikasi praktis Humana Comunitas ialah pertobatan. Pertobatan tersebut dibangun di atas perjumpaan yang terus menurus dengan Pencipta yakni Allah sendiri. Perjumpaan dengan Allah adalah momen yang sangat penting karena di sana kita mengenali seluruh diri kita secara otentik.


Selain pertobatan, pastoral kegembalaan dalam aspek formasi capon imam juga sangat penting. Dalam Humana Comunitas dijelaskan bahwa para calon imam dituntut untuk membangun relasi dengan alam semesta. Atau dengan kata lain, Humana Comunitas membentuk solidaritas yang kuat antara makhluk ciptaan sehingga terbentulah keharmonisan.


Terhadap, materi Humana Comunitas di atas, kedua kelompok penanggap coba memberikan tangggapan. Tanggapan dari penanggap pertama terdiri dari tiga poin penting. Pertama, soal manusia mengada secara sadar di dunia. Poin ini menitik beratkan pada kesadaran manusia bahwa dia ada. Kesadaran akan eksistensinya itu dapat membentuk cara beradanya di dunia. Kedua, soal antroposentrisme. Kelompok penanggap mencoba menanggapi konsep antroposentrisme dalam materi RD. Epin yang bertendensi negatif. Kelompok penanggap mengatakan bahwa antroposentrisme tidak melulu negatif tapi ia memiliki sisi positif. Sisi positif dari antroposentrisme ialah menempatkan manusia pada titik sentral dan menjadi tujuan dari seluruh pedadaban manusia. Ketiga ialah menjadi yang lain. Pandemic Covid-19 menciptakan ruang kosong yang lebar antara sesama manusia. Karena itu, untuk memutuskan rantai penyebaran Covid-19 kita harus menjadi yang lain. Artinya kita juga harus menjaga jarak supaya orang lain tidak terinfeksi Covid-19.


Kelompok penanggap kedua tidak memberikan penjelasan yang panjang lebar soal Humana Comunitas dan Covid-19 tapi mereka menyentil soal-soal praktis bahwa Gereja memiliki tanggung jawab etis dalam memutuskan rantai penyebaran Covid-19 dengan mengikuti protokol kesehatan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah.


Diskusi isi dibagi ke dalam tiga bagian besar. Pertama, pemaparan meteri oleh RD. Epin, kemudian diberikan kesempatan kepada penanggap pertama dan dilemparkan kepada forum untuk bertanya. Setelah itu, kembali kepada penanggap kedua dan kembali kepada Forum untuk berdiskusi.


Dalam sesi diskusi ada begitu banyak pertanyaan dan tanggapan kritis terhadapa materi yang dipresentasikan. Fr. Yoan Odel misalnya menanggapi materi Humana Comunitas dengan mengatakan bahwa sebagai calon agen pastoral kita harus menjadi calon imam dan imam yang profesional. Artinya kita bertindak melampaui realitas Covid-19 sebagaimana yang dilakukan oleh para tim medis dalam upaya merawat para pasien Covid-19. “Etika resiko adalah salah satu yang mesti dikedepankan. Sebagai calon imam, para frater mesti mampu hadir sebagai orang yang mampu membawa penghiburan dan pembebasan bagi yang menderita covid-19. Tentu dalam hal ini, kita tetap patuh dan taat terhdapa protokol kesehatan yang ada”, kata Fr. Yoan.


Diskusi ini berlangsung sampai jam 10.30. Di akhir kegiatan, ketua penyelenggara kegiatan sidang akademik menyampaikan ucapan terima kasih kepada RD. Epin sebagai pemateri diskusi, kepada kedua kelompok penanggap dan kepada para Frater yang telah ikut berpartisipasi dalam kegiatan diskusi. Setelah ucapan terima kasih dari ketua penyelenggara kegiatan diskusi, kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Fr. Joy, salah satu anggota seksi liturgi Rumah. (Vayan/red)

 

 

 

Post SebelumnyaMisa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret
Post SelanjutnyaGAIRAH FRATRES TINGKAT DUA MENJADI ANIMATOR SEKAMI