MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA, KELOMPOK MINAT TEATER TANYA MENGADAKAN ACARA PENTAS SENI

Rabu, 28 Oktober 2020, kelompok minat Teater Tanya Ritapiret mengadakan acara pentas seni dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda. Acara ini diadakan di aula St. Petrus Ritapiret (Saint Peter’s Hall) dan dihadiri oleh semua warga komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Pada umumnya acara ini berbicara tentang hati nurani. Pementasan ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan kelompok minat Teater Tanya yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda.

Tema yang dipilih ialah “Virulen”. Tema ini didasarkan pada kondisi dunia sekarang yang sedang menghadapi virus Corona yang merongrong kehidupan manusia dari segala aspek kehidupan termasuk mematikan hati nurani manusia. Ketua kelompok minat Teater Tanya Ritapiret, Fr. Edy Wathun dalam sambutannya menegaskan bahwa virulen merupakan tema yang kontekstual dengan situasi dunia saat ini. “kami memilih tema ini supaya kita semua bisa melihat situasi khaos yang terjadi akibat adanya virus Corona” ungkapnya.

MUSIKALISASI PUISI DAN DEKLAMASI CERPEN

Pada acara yang pertama disuguhkan sebuah musikalisasi puisi  dari Fr. Alfa Atagoran berkolaborasi dengan San Pedro Band. Puisi Sehabis Mengantar Jenazah karya Sapardi Djoko Damono memang benar-benar menyuguhkan sebuah kenikmatan tersendiri. Selain karena kekuatan kata-kata Sapardi, gaya musik keroncong yang dipadukan alunan melodi khas Jawa itu juga menyayat hati sehingga mengantar para penonton pada kesunyian. Sepi dan hanya mau menikmati. Pada musikalisasi puisi yang kedua, Fr. Alfa mengambil puisi “Dahlia untuk Madona” karya Alm. P. John Dami Mukese, SVD.

Dalam acara kedua, ditampilkan pembacaan puisi dari Fr. Erik Langobelen dengan judul “Di Sebuah Stasiun”. Karya ini ditulisnya dalam perjalanan yang cukup melelahkan di tanah Jawa. Selain pembacaan puisi, para frater tingkat IV juga turut memberi sumbangsih pada pementasan kali ini. Mereka membawakan sebuah deklamasi cerpen dengan judul “Ama Nara” karya Silvester Petara Hurit. Deklamasi yang dibawakan dengan dialek Lamaholot oleh para frater tingkat IV juga menjadi kekuatan yang menghidupkan cerpen ini di atas panggung.  Para frater yang membawakan deklamasi ini di antaranya Fr. Viga Dua, Fr. Tom Kurman, Fr. Ipin Doke, Fr. Marno Wuwur, Fr. Boy Wathun, Fr. Rafael dan Fr. Handri Hambur sebagai narator. Cerpen ini mengetengahkan betapa pentingnya budaya lokal yakni cara menyimpan makanan untuk dikembangkan di masa krisis pangan.

LAZARUS DAN 13 EKOR ANJING  

Pada acara puncak kelompok minat teater tanya menyuguhkan sebuah penampilan teater dengan judul “Lazarus dan 13 Ekor Anjing”. Kisah ini diadaptasi dari kitab suci dalam perumpamaan tentang “Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin” (bdk. Lukas 16:19-31). Pada bagian awal teater ditampilkan sebuah meja lambang kekuatan, kekuasaan, dan harta. Di atasnya berdiri seorang kaya dengan jubah megah, sedang di bawah meja Lazarus harus berjuang untuk mendapat remah-remah makanan sisa dari si kaya. Namun sayang anjing-anjing yang berada di sekitarnya lebih gesit dari padanya yang punya banyak borok, bahkan anjing-anjing tersebut menjilati boroknya.

Sejak awal, para penonton telah terlebih dahulu diantar pada situasi yang seram dan mencekam. Lolongan para anjing yang diperankan oleh Fr. Selmus, Fr. Avis, Fr. Aldy Ekani, Fr. Yance Sambu, Fr. Simpli Dalung, Fr. Aris Bule, Fr. Vian Setu, Fr. Econ Liwu, Fr. Kunto, dan Fr. Erwin Sela, membuat bulu badan ikut naik.

Gestikulasi angkuh dan sombong dari si kaya yang diperankan oleh Fr. Randi Sina memberi makna tersendiri bahwa kekayaan adalah sumber kematian—hati nurani. Si kaya pada akhirnya mati. Ia mati dalam kesombongan dan kecongkakan. Sedangkan  si Lazarus mati tak berdaya dalam kesengsaraan. Kematian Lazarus mengantarnya menuju hidup baru yang lebih layak sedang kematian si kaya menjadikan dirinya sebagai anjing ke-13.

Terlepas dari penafsiran di atas, dalam adegan terakhir anjing-anjing mengangkat si kaya dan berteriak “hati nurani telah mati, hati nurani telah mati”, setelah itu Lazarus yang diperankan oleh Fr. Yanto Boli kemudian berdiri di atas takhta, merentangkan tangan seolah-oleh disalib dan berkata “Tuhan ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”.

Ketika ditanya kepada sang sutradara sebenarnya apa makna dari adegan anjing-anjing yang mengangkat si kaya dan berteriak hati nurani telah mati? Ia menjelaskan demikian “Anjing-anjing yang angkat orang kaya sementara teriak hati nurani telah mati tu alasan tersuratnya karena anjing-anjing tu anggap orang kaya baik, sudah beri mereka makan. Tersiratnya, Ini yang jadi dasar supaya penonton bertanya kenapa orang kaya yang jadi hati nurani, kenapa tidak Lazarus? Ini sebenarnya ajakan eja, penonton yang sebagai ‘anjing lain’ (Judulnya 13 anjing tapi yang di panggung cuma 12, ini supaya bisa ditafsir kita penonton adalah yang ke 13) atau penonton sebagai sesama yang lain tergerak tidak untuk mengangkat Lazarus dan teriak hati nurani, kira-kira begini eja. Namun silakan kembangkan penafsiran dari berbagai sudut pandang”

Acara ini diakhiri dengan lagu dari San Pedro Band dan sepenggal ucapan terima kasih dan permohonan maaf dari ketua kelompok minat Teater Tanya Fr. Edy Wathun. (Itz/red) 

Post SebelumnyaMisa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret
Post SelanjutnyaRUMAH RITA ADALAH NAZARETH TEMPAT ALLAH MEMANGGIL | IBADAT PENUTUP BULAN ROSARIO OKTOBER 2020