LITURGI YANG BERMARTABAT | PEMBEKALAN UMUM LITURGI PRAKTIS BERSAMA RD HANS MONTEIRO

Saint Peter’s Hall (SPH) - Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret mengadakan kegiatan pembekalan umum Liturgi praktis pada Sabtu, 10 Oktober 2020. Kegiatan pembekalan tersebut diikuti oleh semua Frater. Seluruh rangkaian kegiatan dipandu oleh Fr. Randi Sina, dan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Fr. Yoan Sareng dan setelahnya pemaparan materi yang dibawakan oleh RD. Hans Monteiro. Pembekalan Liturgi praktis ini adalah bentuk persiapan bagi para frater dalam karya pastoral praktis.

Pada awal pemaparan materi RD. Hans Monteiro menegaskan bahwa “Liturgi merupakan kebaktian umum dan harus dirayakan sesuai dengan aturan Liturgi yang benar”. Karena itu, menurut beliau Liturgi menuntut partisipasi imam dan umat. Dokumen Sacrosanctum Concilium (SC 28) menegaskan partisipasi antara pemimpin dan umat sehingga kita mengenal Misa dialogis. Ia juga menegaskan bahwa para pelayan Misa (putra altar), para lektor, para komentator dan para anggota paduan suara benar-benar melaksanakan tugas dengan saleh, tulus dan saksama (SC 29).

Tema utama kegiatan pembekalan Liturgi praktis adalah “LITURGI YANG BERMARTABAT”. Tema ini lahir karena melihat bahwa Ekaristi sesungguhnya merupakan pemberian diri Yesus Kristus secara total. Oleh karena itu, umat memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan Ekaristi (SC 29). Beberapa point pokok yang disampaikan oleh RD, Hans Monteiro mengenai Liturgi yang bermartabat yaitu: makna dan martabat Ekaristi, asas dan tata ruang, tugas imam dalam Liturgi, penempatan doa syukur agung dalam Liturgi, dan tata ruang gereja.  Ekaristi sebagai karya umat merupakan Puncak kehidupan Kristen. Maka lebih lanjut dia menekankan Liturgi perlu dirancang sedemikian rupa sehingga umat dapat berpartisipasi secara sadar, aktif dan penuh kasih.

Dalam poin penutup RD. Hans Monteiro menjelaskan beberapa pertanyaan yang menjadi persoalan-persoalan dalam Liturgi praktis. Persoalan-persoalan yang dibahas ialah seputar sikap-sikap dalam Liturgi, arti dan makna doa, penempatan nyanyian dalam Liturgi, ibadat inkulturasi, dekorasi, fungsi dan peran musik dalam Liturgi, tarian, mimbar bacaan, dan posisi tabernakel. Pada bagian akhir pemaparan materi dibuka juga ruang diskusi yang dipimpin oleh ketua Sie Liturgi.

Dalam sesi diskusi ada begitu banyak pertanyaan yang muncul dari para Frater. Misalnya dari Fr. Vano Mane yang bertanya soal urutan membunyikan lonceng, memukul gong dan dupa. Dia mengatakan bahwa ada perbedaan cara membunyikan lonceng, memukul gong dan dupa pada saat perayaan Ekaristi ketika ia menjadi misdinar pada perayaan tahbisan diakon di Ruteng. Atau, dari Fr. Erlick yang menanyakan soal bolehkah “torok tae” dimasukan dalam sebuah perayaan Liturgi?

Setelah semua pertanyaan dijawab oleh RD. Hans Monteiro maka pemaparan materi dan diskusi berakhir. Mewakili ketua para Frater, ketua Sie Liturgi, Fr. Iwan Dadus menyampaikan terima kasih kepada RD. Hans karena bersedia menjadi pemateri utama. Kegiatan ini kemudian ditutup dengan doa penutup.

 

 

Post SebelumnyaMisa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret
Post SelanjutnyaBUZZER, DEMOKRASI DIGITAL DAN RADIKALISASI PERANAN KAUM MUDA | DISKUSI KELOMPOK MINAT CENTRO JOHN PAUL II