KETERLIBATAN GEREJA DAN POLITIK PATRONASE | DISKUSI ILMIAH SEMINARI TINGGI INTERDIOESAN ST. PETRUS RITAPIRET

 SPH, Sie Publikasi Ritapiret, - Minggu, 15 November 2020 para Frater Studiosi Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret mengikuti sidang akademi di aula Saint Peter’s Hall. Sidang ini ditanggung oleh para frater tingkat III yang diwakili oleh Fr. Pance, Fr. Ican, Fr. Paul, dan Fr. Fayan. Sidang akademi yang dimoderatori oleh Fr. Afran Guru ini secara garis besar membahas tentang bagaiamana peran Gereja ketika berhadapan dengan politik patronase di tingkat daerah, khususnya saat pilkada. Bagi pemateri, patronase politik merupakan sebuah ancaman bagi demokrasi. Oleh karena Gereja dipanggil untuk bisa menjadi nabi dan menyuarakan seruan profetisnya berhadapan dengan persoalan ini.

Mendalami tema ini, pemateri mencoba menganalisis peran Gereja berdasarkan pendasaran biblis teologis dan filosofis. Pada dasarnya, Gereja mesti mesti berani turun dari altar ke pasar. Gereja mesti berani keluar dari kepompong yang membuatnya merasa nyaman tanpa pernah merasakan, melihat, dan mengalami persoalan di luar Gereja. Lingkungan di luar Gereja adalah ladang kegembalaan Gereja. Oleh karena itu, Gereja mesti berani mencontohi Kristus yang senantiasa menyuarakan kebenaran dengan mengangkat kembali keadilan dan harkat martabat manusia. Dari segi filosofis, pemateri mencoba mengangkat peran Gereja yang terlibat melalui diskursus ruang publik Habermas. Di dalam ruang publik, Gereja punya ruang untuk menyuarakan kebenaran.

Menanggapi materi ini, Frater Miko mengatakan bahwa tema tentang patronase dan Gereja yang terlibat begitu relevan dengan apa yang telah dikhotbahkan RD. Epin Budiman dalam misa. Baginya peran politis Gereja di tengah-tengah umat, masyarakat, dan negara mempunyai pendasaran bahwa iman mesti dipertanggungjawabkan. “Iman mesti dipertanggungjawabkan itu sama dengan apa yang disampaikan oleh St. Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Tema tentang iman ini selaras dengan apa yang dikhotbahkan RD. Epin tadi saat misa tentang iman yang berwaspada. Iman ini tidak memandang iman sebagai sesuatu yang final, tetapi memandangnya sebagai suatu usaha untuk melampaui resiko ketidakpastian. Oleh karena itu, menghadapi patronase politik, Gereja dipanggil untuk mengkritisinya sambil menawarkan jalan pembebasan. Salah satunya adalah melalui konstruksi wacana “pendidikan politik bagi masyarakat” yang telah ditawarkan oleh pemateri”,  katanya.

Materi tentang patronase dan Gereja yang terlibat tidak hanya dipaparkan oleh para Frater kelas tiga saja, tapi juga ditanggapi oleh para Frater utusan kelas satu dan dua. Pada umumnya tanggapan mereka ini memancing nalar intelektual para peserta diskusi untuk bersama-sama memikirkan dan mendiskusikan bagaimana dan sejauh mana peran Gereja dalam menghadapi fenomena ini. Ada begitu banyak tanggapan dan pertanyaan dari para peserta diskusi dan semuanya dijawab dengan baik oleh pemateri maupun oleh peserta diskusi sendiri. Di akhir diskusi, moderator memberi kesimpulan atas semua yang telah dibahas bersama dalam sidang akademi. Bagi moderator, patronase tetaplah menjadi ancaman bagi demokrasi dan Gereja harus selalu peka dan sadar akan persoalan yang tidak main ini. (MK/red)

Post SebelumnyaMisa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret
Post SelanjutnyaSEMINARI TINGGI RITAPIRET MENERIMA BANTUAN BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR