BUZZER, DEMOKRASI DIGITAL DAN RADIKALISASI PERANAN KAUM MUDA | DISKUSI KELOMPOK MINAT CENTRO JOHN PAUL II

Ruang Mgr. Isak Dura - Kelompok Minat Centro Jhon Paul II mengadakan diskusi ilmiah bertemakan “Buzzer, Demokrasi Digital dan Radikalisasi Peranan Kaum Muda”. Diskusi ini terjadi pada Kamis, 8 Oktober 2020, pukul 20:30. Peserta yang hadir dalam diskusi ini adalah anggota Kelompok Minat Centro John Paul II yang berjumlah 22 orang.

Kegiatan diskusi ini diawali dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Fr. Risen Ronaldo. Setelah Doa, Diskusi langsung dimulai dan dipimpin oleh Fr. Frizt Minta (moderator). Pemateri utama dalam diskusi adalah Fr. Paul Randjang. Penanggap Fr. Vayan Yanuarius dan notulen Fr. Budi Nasu dan Fr. Apri Selay. Moderator, sebagaimana dalam diskusi pada umumnya menyampaikan mekanisme diskusi.

Diskusi dibagi dalam empat sesi. Pertama pemaparan materi. Kedua, kesempatan diberikan kepada penanggap untuk menanggapi pemateri utama. Kemudian diberikan kesempatan kembali kepada pemateri utama. Ketiga, sesi diskusi yang diberikan kesempatan kepada peserta diskusi untuk memberikan pertanyaan atau menyampaikan gagasan.

Materi diskusi ini sangat relevan untuk konteks sekarang. Buzzer sebagaimana yang dipaparkan oleh Fr. Paul dalam materi diskusinya dapat merusak tatanan  nilai demokrasi. Buzzer bekerja melalui instrument media sosial dengan cara menyampaikan pesan-pesan provokatif, hoak dan mengandung unsur kebenciaan. Karena itu, menurut Fr. Paul untuk meminimalisir dampak dari kerja Buzzer ini ialah radikalisasi peranan kaum muda. Kaum muda harus menjadi benteng pertahanan atas informasi-informasi yang beredar di jagat maya. Untuk mencapai efektivitas peranan kaum muda maka perlu menanam sikap kritis dan selektif terhadap berita di media sosial.

Sedangkan, Fr. Vayan sebagai penanggap menyoroti dampak kehadiran Buzzer dalam sistem demokrasi. Menurut Fr. Vayan kehadiran Buzzer mereduksi nilai-nilai hakiki dari demokrasi itu sendiri yakni diskursus. Diskursus menjadi sangat penting karena setiap orang dapat menimbang suatu persoalan dengan matang.

Pada sesi diskusi, para peserta diskusi antusias untuk memberikan pertanyaan, seperti Fr. Ancik Sabar misalnya menanyakan “bagaimana kaum muda menanggapi probematika teror digital sementara mereka sendiri sudah terbiasa dengan mental instan  dan tidak memiliki daya berpikir yang kritis?”.  Hal yang sama juga ditanyakan oleh Fr. Roni Galut. Atas pertanyaan ini, pemateri memberikan tanggapan yang sangat baik dan memuaskan

Dari tanggapan-tanggapan yang ada melahirkan banyak solusi yang menarik. Solusi yangditawarkan kepada kaum muda bahwa kaum muda harus menanam budaya literasi supaya mempertajam analisis dan mempu memberikan solusi yang konstruktif. Selain peran kaum muda, peran sentral pemerintah dan peran organisasi-organisasi independen juga sangat dibutuhkan.

Diskusi ini diakhiri dengan ucapan terima kasih dari ketua Kelompok Minat Centro Jhon Paul II (Fr. Vayan Yanuarius). Kemudian diikuti salam penutup dari moderator, doa penutup yang dibawakan oleh Fr. Patrik Pata. Untuk kepentingan dokumentasi, para peserta diskusi berpose bersama.

 

Post SebelumnyaMisa Rabu Abu di Seminari Tinggi Ritapiret
Post SelanjutnyaMENGENAL HUMANA COMMUNITAS DAN IMPLIKASINYA BAGI FORMASI CALON IMAM