Kelompok Minat Teater Tanya

PROFIL KELOMPOK MINAT TEATER TANYA

            Teater Tanya merupakan sebuah kelompok minat yang beranggotakan para calon imam diosesan yang sedang menjalani masa formasi di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Kelompok ini memfokuskan perhatian pada pengembangan bakat di bidang sastra dan teater. Para frater yang bergabung dalam kelompok ini umumnya mempunyai minat yang besar dalam dunia sastra dan teater.

            Kreativitas dalam mengembangkan sastra dan teater sudah tumbuh sejak awal berdirinya lembaga calon imam ini. Sejak tahun 1955, para frater sering membuat pementasan teatrikal dalam berbagai acara. Salah satu yang masih bertahan sampai sekarang adalah kaledoskop. Kaledoskop merupakan kilas balik berbagai kegiatan selama setahun masa pembinaan. Kilas balik tersebut dikemas dalam sebuah alur cerita yang didramatisasi di atas panggung pementasan.

            Pada masa kepemimpinan Rm. Ph. L. Liwu, Pr, dibentuk kelompok-kelompok kecil untuk mengembangkan bakat dan minat. Rm. Anton Konseng, Pr diberi tanggung jawab untuk mengolah kelompok-kelompok minat tersebut. Salah satu kelompok yang berkembang baik pada masa itu adalah kelompok seni. Kelompok kecil ini menjadi cikal bakal terbentuknya kelompok minat Teater Tanya di kemudian hari.

            Pergulatan para calon imam dalam dunia seni kemudian membentuk kesadaran bahwa seni dapat memberi sumbangan berarti bagi perkembangan diri calon imam. Kesadaran ini menjadi motivasi dasar terbentuknya kelompok minat Teater Tanya. Dalam dokumen kelompok, tercatat beberapa nama yang menjadi fundator yakni Fr. Edi Menori, Fr. Wilhem Ola Baga, Fr. Sebas Amamean, Fr. Geri Dori Gobang, Fr. Manto Tapung, Fr. Yoris Role, Fr. Ignas Mukin, Fr. Kristo Loko, dan Fr. Fery Warman.

            Sejak pertengahan tahun 1995, para frater pecinta teater terus berjuang untuk membentuk sebuah kolompok minat yang bergerak dalam bidang sastra dan teater. Usaha dan kerinduan tersebut akhirnya terwujud pada tanggal 16 September 1997. Sejak tanggal 17 September 1997 hingga 23 september 1997, sebuah tim khusus berupaya merumuskan motto dan semboyan kelompok minat yang baru dibentuk itu.       

            Pemberian nama “Teater Tanya” berdasar pada sikap dasariah manusia sebagai makhluk yang selalu bertanya (homo quarens). Dengan bertanya, menusia merealisasikan eksistensinya untuk berdialog dengan yang lain. Dengan bertanya pula manusia mencari kebenaran yang hakiki. Sejalan dengan itu, kelompok Teater Tanya ingin terus bertanya sekalipun kesempatan untuk bertanya dipasung dalam kebisuan yang membeku.

            Motto kelompok minat Teater Tanya adalah “SUARA KAMI BELUM PENSIUN.” Motto ini menjadi spirit dasar agar Teater Tanya terus bertanya dan menggema tanpa henti. Teater Tanya berikhtiar menjadi corong bagi suara-suara yang dibungkam oleh kekuatan-kekuatan yang menindas.

            Kebebasan yang terpasung mengakibatkan banyak persoalan hidup tidak terselesaikan. Suara-suara yang meneriaki perubahan menuju kehidupan yang layak dibungkam dalam sistem. Masyarakat kecil semakin terpinggir dan jauh dari kesejahteraan. Di tengah realitas ini, muncul semakin banyak pertanyaan. Teater Tanya menyadari bahwa mereka tidak dapat menjawab semua pertanyaan itu dengan pasti. Tapi satu kepastian yang mereka percaya: masih ada banyak kenyataan hidup yang tidak atau belum ditanyakan. Oleh karena itu, Teater Tanya mengusung semboyan: “KAMI TIDAK TAHU APA YANG ANDA TANYAKAN TAPI KAMI TAHU APA YANG TIDAK ANDA TANYAKAN”.

            Pada awal perkembangannya, pementasan yang dibuat Teater Tanya selalu berorientasi pada kepentingan pastoral. Pada tahun 1997-1999, pementasan drama selalu selaras dengan gema reformasi yang melanda Indonesia waktu itu. Sebuah drama besar yang dipentaskan waktu itu berjudul “Antigone”. Pada pertengahan tahun 2001, Teater Tanya sukses mementaskan drama “Hamlet” karya William Shakerpeare. Berbagai pementasan kemudian dibuat setiap tahun. Selain mementaskan naskah drama para penulis kondang, Teater Tanya juga mementaskan naskah drama yang ditulis oleh anggota kelompok sendiri. Beberapa pementasan termutakhir antara lain “Tanda Tanya Tanya Tanda” (2017), “Toreador” (2018), dan “Corat-coret di Toilet” (2019).

            Selain membuat pementasan panggung, Teater Tanya juga menerbitkan majalah sastra dan teater. Tercatat sudah diterbitkan empat volume majalah “We Have A Dream” dan dua volume majalah “Linear”. Majalah itu menjadi medium bagi anggota Teater Tanya untuk menyalurkan serta mendokumentasikan ide dalam bentuk karya sastra seperti puisi, cerpen, naskah teater, dan naskah drama.

            Ziarah yang panjang mendorong kelompok minat Teater Tanya untuk senantiasa menggema sepanjang zaman. Membentuk cakrawala berpikir yang kritis terhadap setiap situasi. Membuka mata hati agar lebih dalam menatap dan memahami realitas hidup.     

Post SebelumnyaKelompok Minat Sekami Lolek
Post SelanjutnyaKelompok Minat Centro John Paul II