Siklus penularan covid-19 yang kian merebak dan menyebar secara global membuktikan bahwa dunia kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. menghadapi realitas penularan berskala global ini, mustahil bagi kita untuk menutup diri dan bergerak secara individualistik. Sebaliknya, dibutuhkan suatu gerakan bersama yang terkonsolidasi dan terkoordinsi dengan baik serta terorganisir.
Solidaritas berbasis digital dapat dilihat sebagai peluang strategis dalam memerangi bahaya covid-19. Sebab solidaritas model ini efektif membentuk gerakan kolektif tanpa harus berkerumun secara fisik. Solidaritas digital ini juga ditopang oleh penetrasi teknologi informasi yang bergerak cepat-eksponensial. Kehadiran internet, handphone, dan alat teknologi informasi lainnya merupakan terobosan penting dalam sektor teknologi yang dapat digunakan dalam menunjang dan memperkuat solidaritas berbasis jejaring ini.
Penetrasi teknologi digital ini juga kompatibel dengan kehadiran generasi milenial sebagai manifestasi kaum muda yang melek teknologi. Berdasarkan hasil studi Polling Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia tumbuh 10,12 persen. Menurut Sekjen APJII, Henri Kasyfi, survei ini melibatkan 5.900 sampel dengan marginof eror 1,28 persen. Data lapangan ini diambil selama periode Maret hingga 14 April 2019. Hasilnya menurut Henri, dari total populasi sebanyak 264 juta jiwa penduduk Indonesia, ada sebanyak 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen yang sudah terhubung ke internet. Dan ditegaskan bahwa dari seluruh pengguna internet di Indonesia, diketahui mayoritas yang mengkases dunia maya adalah masyarakat dengan rentang usia 15 hingga 19 tahun, (https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/tekno/read/2019/05/16). Secara teknis generasi pada rentang usia ini dikategorikan dalam generasi milenial.
Pada tataran teoretis, William Strauss dan Neil Howe mendeskripsikan generasi milenial sebagai generasi yang berbeda dengan generasi- generasi sebelumnya. Dikatakan bahwa ikatan persatuan generasi milenial lebih kuat dan dapat diandalkan. Mereka tidak bersikap apatis dan anti-sosial. Sebaliknya mereka tekun bekerja dan bertindak secara tim. Dengan demikian, Strauss dan Howe percaya bahwa generasi milenial dapat menjadi generasi yang sukses di masa yang akan datang.
Di tengah situasi pandemi Covid-19 sekarang ini, peran generasi milenial sebagai generasi melek teknologi mutlak diperlukan. Menggalang solidaritas berbasis digital dapat dijadikan sebagai solusi alternatif untuk keluar dari situasi krisis virus corona. Solidaritas model ini dinialai efektif bagi generasi milenial yang cerdas teknologi dan mempunyai cara hidup collective (memiliki solidaritas tinggi dalam ikatan kelompok), customisation (kesadaran budaya) dan community (semangat hidup komunitas).
Ada beberapa misi kemanusian yang mesti diprioritaskan dari gerakan solidaritas berbasis digital a la milenial ini. Pertama, bergerak secara kolektif untuk menyelamatkan media sosial (platform digital: google, facebook, instagram, WhatsApp, dll) dari bahaya hoaks, disinformasi dan fake news. Bahaya-bahaya ini biasa disebut dengan fenomena infodemik. Fenomena ini dinilai memperburuk situasi karena mengarah pada informasi yang berlebihan akan suatu masalah (wabah covid-19) dan secara sistematis menyebarkan kabar bohong yang membahayakan tatanan hidup masyarakat. Warren Fernandes, pemimpin redaksi The Straits Times dan President of the World Editors Forum yang berjudul: “Credible Media Vital in Fight againts coronavirus and epidemic of fake news” yang dimuat pada TST, 9 April 2020 lalu, menjelaskan bahwa infodemik dapat diidentikan dengan penyebaran informasi yang salah dan bisa merusak kepercayaan publik pada saat yang genting, (Gatut Priyowidodo; 2020).
Berhadapan dengan situasi ini, solidaritas berbasis digital a la milenial dinilai praktis dalam menstreril dan meluruskan informasi bohong. Gerakan solidaritas berbasis digital milenial mesti menjadi frame gerakan tandingan untuk mensterilkan media sosial dari fenomena infodemik yang merugikan masyarakat.
Kedua, misi solidaritas berbasis digital a la milenial juga mesti berkiblat pada nilai luhur kemanusiaan dan kebajikan hidup. Dalam konteks pandemi, misi ini dapat dipraktikkan dengan membentuk grup peduli sosial berbasis online. Dengan kelompok seperti ini, generasi milenial bisa menggalang dana kemanusiaan untuk para korban virus corona, khususnya kelompok yang rentan seperti kaum difabel, lansia, dll.
Ketiga, gerakan solidaritas berbasis digital a la milenial ini mesti menjadi motor penggerak dalam menyalurkan informasi penting berkaitan dengan penanganan Covid-19. Sebab, mengutip Yuval Noah Harari mengatakan bahwa bahwa “sejarah (epidemi) menunjukkan perlindungan yang sesungguhnya datang dari saling berbagi informasi dan solidaritas global”.

Post SebelumnyaRenungan 24 Februari 2020
Post SelanjutnyaMENJADI PRIBADI ADVENTIS YANG BERHATI HAMBA ALLAH (FRATRES TINGKAT II)