SUARA REDAKSI

Adventus yang ber-spirit Kehambaan

Bermula dari abad keempat hingga mendapat penegasannnya dalam Konsili Vatikan II, Masa Adven (Latin: adventus, advenio; Yunani: parousia = kedatangan) oleh Gereja dilihat dalam dua pemahaman. Pertama, sebagai sebuah persiapan untuk ada dalam kenangan akan peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem (dirayakan pada 25 Desember) dan kedua sebagai penantian akan kedatangan Kristus di akhir zaman (eskatologis).

Dua pemahaman itu, selaras dengan apa yang ditegaskan dalam KGK nomor 524. Bahwasannya dalam pengahayatan akan keberadaan Masa Adven, umat beriman bergumul dalam tindak “menghidupkan lagi penantian akan Mesias; (yang) dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membarui di dalamanya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua”.

Dengan demikian, Masa Adven dalam spritualitasnya boleh dilirik sebagai masa pengungkapan persiapan, penantian, yang tampan akan kedatangan (adventus) yang terpartri dalam dua pemahaman tersebut. Umat beriman beriman secara konkret hadir dalam pengungkapan semangat sukacita injili: siap siaga menanti dengan gembira, optimisme dalam pengharapan, sikap bertobat dan berpaling kepada Allah.

Semuanya itu tentu akan terlaksana, bila umat beriman benar-benar secara sungguh meletakan lajur penghayatan Masa Adven-nya tersebut dalam spirit kehambaan: Spirit Para Miskin Yahweh.  Spirit yang disebut Yesus “berbahagia” (bdk. Mat. 5:3-12) dalam tindak rendah hati, lembut hati, serta selalu siap sedia demi kebaikan.

Atas pijakan pemahaman Masa Adven yang bergerak dalam penghayatan spirit kehambaan itulah, yang kemudian menginspirasi kehadiran tema Wadas Edisi II kali ini: “Menjadi Pribadi Adventis yang Berhati Hamba Allah”. Pembahasan tema ini akan mengemuka dalam ragam ulasan yang akan membuka ruang reflektif bagi pembaca sekalian, untuk mau bergerak dalam spirit kehambaan (spirit para miskin Yahweh) dalam langkah-laku penghayatan hidup di Masa Adven.

Akhirnya, Wadas edisi II turut mengingatkan pembaca untuk memaknai Masa Adven bukan hanya mengenangkan peristiwa bersejarah 2000 tahun yang lalu di sebuah kota di Yudea. Namun, perayaan Masa Adven, sebagaimana ujar St. Yohanes Paulus II, hendaknya menghantar umat beriman kepada sebuah ingatan bahwa “hidup kita hendaknya menjadi ‘Adven’ “, yang harus senantiasa merupa dalam pengharapan akan Kristus yang terakhir. SALAM  ADVENTIS!!!

FILE WADAS BISA DIDOWNLOAD DI SINI

Post SebelumnyaRenungan 24 Februari 2020
Post SelanjutnyaRENUNGAN MINGGU ADVEN I | RD HANS MONTEIRO