DOA, PUASA, DAN SEDEKAH: JALAN MENJUMPAI TUHAN DAN SESAMA

(RD LORENS BATE LAJA)

Bacaan I: Yoel 2:12-18
Bacaan II: 2Kor. 5:20-6:2
Bacaan Inijil: Mat. 6:1-6, 16-18

Liturgi Rabu Abu hari ini secara historis menjadi tanda dimulainya pertobatan untuk penebusan dosa secara publik. Seremoni penerimaan abu di dahi atau kepala kita merupakan tanda lahiriah yang diadopsi dari tradisi Yahudi sejak masa Perjanjian Lama. Upacara ini juga menyadarkan kita akan asal-muasal tubuh kita yang tercipta dari abu; yang tentunya rapuh, lemah, tak berdaya dan akan kembali menjadi abu ketika kita mati. Meski demikian, kita bukan hidup tanpa hati. Karena itu kita sering terkontaminasi dosa dan gampang terseret kecenderungan hati kita untuk melakukan kejahatan.
Dalam bacaan hari ini, Nabi Yoel mengingatkan kita agar tidak hanya mengoyakkan pakaian sebagai tanda tobat yang secara lahiriah bisa dilihat, tetapi secara batiniah. Sang nabi sejak awal telah melihat adanya kemungkinan kita jauh dari hakikat tobat sesungguhnya, yakni perubahan hati dan hidup yang radikal. Jadi, cara paling tepatn yang ditawarkan Yoel adalah mengoyakkan hati dan berbalik kepada Tuhan, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, agar dengan demikian saat sekarang menjadi saat perkenanan, dan hari ini adalah hari penyelamatan, sebab Tuhan berkenan mendengarkan kita dan melalui korban-Nya di atas salib kita diperdamaikan dengan Allah (seturut kata Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus). Dengan demikian kita semua yang mengimani-Nya dibenarkan oleh Allah dan selanjutnya kita harus melakukan kebenaran serta kebaikan yang menjadikan kasih karunia Allah ini bermakna bagi hidup kita dan berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan iman dan rasa kegamaan kita yang nampak dalam doa, puasa, dan sedekah.
Pertobatan sejati kepada Tuhan adalah tindakan kembali kepadaNya, mengakui kekudusanNya, kekuatanNya, dan keagunganNya. Puasa yang benar tidak pernah ditujukan membuat diri kita dikagumi karena kita lebih menampilkan cara-cara lahiriah, melainkan bagaimana berubah secara batiniah.
Doa, puasa dan sedekah adalah elemen kohesif yang terpadu, saling resap satu sama lain, dan penting dalam setiap religiositas kita, yang benar-benar dipraktekkan dengan setia kepada Tuhan dan sesama. Dengan demikian hidup keagamaan kita tidak terkurung dalam upacara semata, tapi nyata secara produktif dalam hidup kita sehari-hari.
Dalam Injil hari ini, Yesus "membaca ulang" tiga karya dasar kesalehan yang diatur oleh hukum Musa: sedekah, doa dan puasa. Ketiganya menjadi ciri orang Yahudi yang taat hukum. Namun, seiring waktu, resep ini telah dirusak oleh formalisme lahiriah, atau bahkan berubah menjadi tanda superioritas. Karena itu, Yesus menyoroti godaan umum yang bisa menganggu tiga karya kesalehan ini. Ketika sesuatu yang baik kita lakukan, keinginan untuk dihargai dan dikagumi atas perbuatan baik muncul hampir secara naluriah dan ini muncul dari dalam diri sendiri serta tertuju juga kepada diri sendiri. Dengan kata lain, ada godaan akan kecenderungan hidup kita untuk diproyeksikan hanya demi mendapat kekaguman. Dalam mengusulkan resep-resep ini, Tuhan Yesus tidak meminta suatu penghormatan formal terhadap hukum yang mungkin terasa asing dan berat untuk dilaksanakan, tetapi mengundang kita untuk menemukan kembali tiga karya kesalehan ini yakni dengan menjalankannya secara lebih sadar dan mendalam. Hal ini dijalankan dengan tujuan bukan untuk cinta diri, tetapi karena cinta kita kepada sesama, wujud iman kepada Tuhan, serta harapan kita untuk sampai kepada Tuhan melalui jalan pertobatan.
Sedekah, doa, dan puasa adalah garis besar pedagogi-pendidikan ilahi yang mengarahkan kita, tidak hanya dalam Prapaskah, tetapi merupakan jalan yang menghantar kita menuju perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang bangkit; jalan yang harus dilalui tanpa kesombongan, alias dengan kerendahan hati dan harapan bahwa Bapa surgawi dapat membaca dan melihat bahkan dalam rahasia hati kita yang paling dalam serta tersembunyi, dan DIA pasti akan membalasnya. Pembaharuan hati dalam pertobatan yang tersembunyi akan membuat sedekah, doa dan puasa kita lebih punya makna dan sekaligus menjadi kekuatan yang mampu mengajak orang lain untuk bertobat, bersolider dengan sesama, berdamai dengan Allah dan boleh bersama merayakan sukacita Paskah kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. 
Ingatlah, kita berasal dari abu dan kembali ke abu, karena itu selagi masih hidup, jangan jadikan hidup kita abu-abu. Mari kita jadikan hidup keagamaan kita penuh warna dalam lukisan doa, puasa dan sedekah. Semoga!

Post SebelumnyaRenungan 24 Februari 2020
Post SelanjutnyaRENUNGAN HARI MINGGU PASKAH 2021