BACAAN INJIL: Mrk. 13:33-37

Untuk memahami penggalan Injil Markus hari ini yang berbicara tentang zaman parusia, kedatangan Kristus, tema utama dua pekan pertama masa advent, kita perlu memperhatikan konteks Markus 13, dan gambaran-gambaran apokaliptik yang bersumber pada Perjanjian Lama.

 

Markus 13 diawali dengan pertanyaan seorang murid anonim kepada Yesus: “Guru, lihatlah betapa kokohnya batu-batu itu dan betapa megahnya gedung-gedung itu!” Jawab Yesus kepadanya: “Kaulihat gedung-gedung yang hebat itu? Tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan” (Mrk. 13:1-2). Kemudian ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun dengan panorama menghadap ke Bait Allah, Petrus, Yakobus, Yohanes dan Andreas bertanya kepada-Nya tentang kapan dan tanda-tanda tentang akhir zaman (Mrk. 13:4).

 

Tanda-tanda apokaliptik, matahari dan bulan tidak bercahaya, dapat kita baca dalam Yesaya. “Bintang-bintang dan gugusan-gugusannya di langit tidak akan memancarkan cahayanya; matahari akan menjadi gelap pada waktu terbit, dan bulan tidak akan memancarkan sinarnya” (Yes. 13:10). “Segenap tentara langit akan hancur, dan langit akan digulung seperti gulungan kitab, segala tentara mereka akan gugur seperti daun yang gugur dari pohon anggur, dan seperti gugurnya daun pohon ara” (Yes. 34:4). Penampakkan Anak Manusia dalam awan, gambaran akan Tuhan Penyelamat yang tersembunyi, dapat dibaca dalam Yes. 19:1 - Lihat, Tuhan mengendarai awan yang cepat dan datang ke Mesir, maka berhala-berhala Mesir gemetar di hadapan-Nya, dan hati orang Mesir, merana hancur dalam diri mereka. Pohon ara, sedikit tumbuhan di Palestina yang kehilangan daunnya di musim dingin, tanda perubahan musim. Demikian pula bila mulai bertunas, tanda mulainya musim panas.

 

Semua tanda-tanda apokaliptis alamiah di langit maupun di bumi yang akan dialami oleh satu generasi ke generasi yang lain, tetap meninggalkan satu misteri besar yang tidak tercatat dalam kalender, yakni tidak seorang pun tahu akan akhir zaman, hanya Bapa saja. Karena itu hanya ada satu seruan: berjaga-jagalah!

 

Menarik dari penggalan perikop Injil hari ini adalah seruan berjaga-jaga yang awalnya ditujukan untuk hamba-hamba, diperuncing dan dipersempit pada hamba “penjaga pintu”. Berjaga-jaga menjadi tugas penjaga pintu, entah kapan, pada waktu malam tuan rumah akan pulang. Urutan waktu ditutup dengan waktu pagi-pagi buta, ketika jago berkokok.

 

Jago berkokok mengingatkan kita pada perikop Markus selanjutnya tentang Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali sebelum jago berkokok (Mrk. 14:31) dan permohonan Yesus kepada Petrus, Yakobus dan Yohanes agar mereka menanti dan berjaga bersama Dia di Taman Getzemani. Tidak kah kamu sanggup berjaga-jaga dengan aku?

 

Injil ditutup dengan peralihan alamat dari pembicaraan dengan sahabat intim: Petrus, Yakobus, Yohanes dan Andreas, ke alamat baru yang diperluas dan bersifat umum kepada semua orang untuk berjaga-jagalah!

 

Berjaga-jaga bukanlah penantian akan hari Tuhan yang menakutkan melainkan yang mengalir dalam keseharian hidup dan mengikuti tanda-tanda zaman dengan penuh kehati-hatian. Setiap waktu selalu terbuka dan siap untuk mengakui dan menerima Tuhan. Berjalan melintasi dunia dengan mata terbuka dan sadar akan tapak-tapak Tuhan dalam hidup. Inilah panggilan Yesus untuk pengikutnya dan semua orang pada segala zaman.

 

Mengingat hanya Bapa yang tahu waktu dan saatnya, tidak ada cara dan jalan lain untuk “memaknai seruan Yesus untuk berjaga-jaga” selain dengan berdoa sebagaimana maksud dan tujuan keberadaan-Nya di Getzemani, permohonan-Nya kepada murid-murid terdekat-Nya, dan secara khusus kepada Petrus.

 

Juga bacaan pertama dibuka dengan doa, pengakuan iman kepada Yahwe sebagai Bapa Kami, Penebus Kami dan pengakuan akan dosa-dosa: Ya Tuhan, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalan-Mu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepada-Mu? Doa diakhiri dengan permohonan pembebasan sebab kami telah berdosa terhadap Engkau dan pengakuan kepada Allah sebagai Pencipta: Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu (Yes. 64:8).

 

Hari ini kita memasuki masa advent. Pandangan kita mulai hari ini tertuju pada kedatangan Kristus (adventus) yang dalam liturgi dibagi dalam dua etape. Mulai hari ini sampai 16 Desember liturgi memberi perhatian pada kedatangan eskatologis Tuhan. Dan waktu dari 17-24 Desember sebagai persiapan dekat untuk merayakan Natal (Pesta Inkarnasi Sabda).

 

Kita memanfaatkan waktu liturgis dan tahun liturgi yang baru ini dengan membaharui, memperkuat dan memperdalam semangat doa, sebagai waktu perjumpaan intim dengan Tuhan, melalui bacaan-bacaan suci, doa-doa pribadi, visitasi dan adorasi, meditasi dan kontempalsi pribadi. Covid-19 di satu pihak membatasi ruang gerak bersama, di lain pihak membuka ruang gerak dan inisiatif pribadi untuk berkreasi dan mandiri dalam doa. Santo Petrus pelindung rumah Rita, hamba yang dipercayakan tuannya untuk penjaga pintu tuan-Nya, kiranya membantu dan menolong kita dalam mengusahakan rumah Rita sebagai rumah doa, lebih khusus dalam masa advent ini, bagi pribadi-pribadi para peziarah di jalan panggilan imamat.

Post SebelumnyaRenungan 24 Februari 2020
Post SelanjutnyaRENUNGAN HARI MINGGU BIASA VI--14 FEBRUARI 2021