SENTUHAN KASIH YANG MENYEMBUHKAN

Renungan Hari Minggu Biasa VI

Oleh: RD Lorens Bate Laja
Bacaan I: Im. 13:1-2.45-46
Bacaan II: 1Kor. 10:31-11.1
Bacaan Injil: Mrk. 1:40-45.

Kita semua tahu bahwa kusta, agak mirip dengan virus corona zaman kita, pasti membuat si penderita terpisah dari yang lain. Orang yang terkena kusta tinggal jauh dari orang lain, di luar kota. Singkatnya, dia diisolasi secara permanen sampai mereka dinilai sudah sembuh, barulah mereka boleh kembali dalam keluarga dan komunitas. Rasa rindu yang membara untuk bersatu dengan keluarga pasti sungguh mengacaukan perasaan dan membakar hati mereka. Mereka tentu ingin disapa, tapi nyatanya selalu dihindari. Mereka ingin merasakan hangatnya sebuah perhatian yang tulus tanpa rasa jijik yang menakutkan. Mereka mungkin saja diperhatikan dengan membawa makanan dan minuman, namun tanpa menyapa dan menyentuhnya. Ini sungguh menyakitkan. Keinginan mereka hanyalah diperhatikan, disentuh, dan sembuh.

Dalam Injil Markus yang kita dengar hari ini, ada kisah tentang belas kasihan Yesus; sebuah gambaran tentang sang Guru yang tergerak di depan penderita kusta. Ini benar-benar sebuah lukisan indah yang tidak pernah dialami pada zaman Perjanjian Lama. Seolah-olah Ia kehilangan kendali dalam menghadapi rasa sakit seorang kusta yang hidupnya dihancurkan oleh derita yang dialaminya. Permohonan si kusta dalam ungkapan “kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”, menunjukkan gairah, mengekspresikan getaran nuraninya akan keinginan eksistensial, yakni kembali kepada kesembuhan martabatnya sebagai manusia sama seperti yang lain. Yesus adalah Transkripsi historis-kehadiran yang menyejarah dari cinta Bapa yang penuh gairah, dengan hati keibuan yang menyerahkan diriNya untuk memuaskan hasrat jiwa semua manusia. Dengan kata lain, Yesus hadir dalam sejarah hidup kita mewujudkan cinta Bapa dalam korban salib untuk mengembalikan martabat ilahi kita yang telah dirusak dan direndahkan oleh dosa.

Tindakan Yesus untuk mengulurkan tangan dan menyentuh si kusta tak lazim di zaman itu. Sebab, setiap orang yang berpapasan dan apalagi menyentuh orang kusta, besar kemungkinan akan terjangkit penyakit itu juga. Tapi Yesus mendengarkan rintihan jiwa yang tak terdengar; Yesus menyentuh yang tak tersentuh, karena telah disekat oleh tradisi atau kebiasaan berabad-abad lamanya dari memisahkan secara tegas si sehat dan si kusta, yang berdosa dan yang suci. Dan sapaan dan sentuhan Yesus pada si kusta justru mendobrak semua sekat penghalang. Kusta tak menulari Yesus, akan tetapi justru Yesus menularkan rahmat kesembuhan, mengembalikan identitas pribadi dan dan mengangkat martabat si kusta yang telah lama hilang dan direndahkan.

Seringkali dalam keseharian hidup, oleh pelbagai alasan kita cenderung melihat sesama kita bagaikan sampah, limbah rumah tangga yang perlu dibuang dan dihindari. Apakah dengan demikian kita menjadi lebih manusiawi, apakah dengan demikian kita menjadi lebih murni dan layak untuk dihormati? Kita seringkali begitu gampang memvonis sesama atas perbuatan mereka yang salah dan keliru kemudian kita mencampakkan mereka.

Hari ini, pikiran kita mesti disadarkan, nurani kita mesti disentuh, kasih kita mesti dipicu untuk belajar dari Yesus. Kita mesti ingat bahwa sentuhan kasih Yesus kepada si kusta bukan cuma sentuhan atas kusta yang ia alami, akan tetapi sebuah sentuhan yang membawa perubahan identitas dan martabatnya sebagai citra yang tercipta menurut gambar dan rupa Allah. Tindakan Yesus yang menyentuh si kusta mesti mengguncang hati dan jiwa kita untuk juga memiliki di dalam diri kita semangat kasih dan belas kasihan, solidaritas, kemudian menjadi sebuah gerakan yang menghidupkan, menyembuhkan dan mengembalikan martabat sesama yang menderita karena pelbagai alasan.

Dalam kesembuhan penderita kusta ini, ada aspek moral dan spiritual yang patut disoroti, agar tidak mengandung resiko yang membuat kita salah menafsirkan apa yang dilakukan oleh Yesus. Karena setelah menyembuhkan penderita kusta tersebut, Yesus langsung menyuruh orang itu pergi bukan untuk memberitahukan siapa yang menyembuhkannya, akan tetapi pergi kepada imam dan menyampaikan persembahan sebagai tanda syukur. Di sini Yesus mengingatkan si kusta yang telah sembuh tentang norma Musa yang harus diterapkan sesuai dengan hukum yang tidak boleh dilupakan: “Pergi dan perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

Dalam derita, dalam kesembuhan, kesuksesan maupun kegagalan, dalam bekerja, siapapun kita sesuai panggilan dan profesi kita masing-masing, ketika kita makan dan minum; apakah kita selalu memiliki dorongan yang kuat untuk memuliakan Allah seperti kata Rasul Paulus dalam bacaan kedua kepada jemaatnya di Korintus? Paulus mengajak kita untuk selalu berusaha menyenangkan semua orang dalam segala hal, tetapi bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan untuk kepentingan banyak orang supaya mereka selamat. Apapun yang kita lakukan sangatlah tidak cukup menyenangkan banyak orang, akan tetapi juga harus mencapai tujuan utama yakni keselamatan. Orang kusta melonjak kegirangan karena telah sembuh dari penyakit kustanya, namun ia justru langsung melanggar apa yang diperingatkan Yesus dan lupa yang seharusnya ia lakukan yakni menyampaikan persembahan sebagai rasa syukur kepada Tuhan melalui imam. Penderitaan yang besar apabila disentuh dengan kasih yang tulus meskipun kecil tidak hanya melahirkan sukacita yang besar, tetapi sanggup membawa orang kepada keselamatan. Karena di dalamnya ia tidak hanya menjumpai Yesus yang tampil sebagai penyembuh, melainkan terutama Yesus yang harus ia imani sebagai Penyelamat.

Pada Pesta Valentine yang juga kita rayakan hari ini, kita semua diajak untuk menemukan kembali cinta yang mungkin hilang karena egosime kita, memurnikan kembali cinta yang mungkin tercemar oleh ketidaksetiaan kita, menghidupkan dan menyalakan kembali cinta yang mungkin telah lama redup dan mati oleh jarak yang tak terjembatani, dan mencairkan kembali cinta yang mungkin telah lama beku karena miskomunikasi dan kesalahpahaman yang sering terjadi. Dalam Tuhan semoga semua kita akhirnya menemukan cinta sejati kita yang menggerakkan hati dan jiwa kita untuk mencintai sesama tanpa pamrih, sebuah cinta yang tidak hanya melahirkan sukacita, melainkan terutama cinta yang menyelamatkan. Semoga Tuhan memiliki diri kita seutuhnya dan diri kita memiliki Tuhan selamanya. Amin!

Post SebelumnyaRenungan 24 Februari 2020
Post SelanjutnyaRENUNGAN RABU ABU 2021