Bacaan I: Kel 22:21-27

Bacaan II: 1Tes 1:5c-10

Injil: Mat 22:34-40

 

Kisah Injil pada hari ini menampilkan semacam “ujian” dari para ahli Taurat kepada Yesus berkaitan dengan pengetahuan keagamaan-Nya tentang perintah utama dalam Hukum Taurat dan Kitab para Nabi. “Guru, hukum mana yang paling utama dalam Hukum Taurat?”

Pertanyaan ini wajar dan bisa dimaklumi, mengingat ada begitu banyak ketentuan hukum dalam Hukum Taurat. Tercatat kira-kira 613 perintah dan 365 larangan. Saking banyaknya sehingga bisa jadi membingungkan, karena mereka tidak tahu mana yang paling utama atau diutamakan.

Perikop Injil dengan tema seperti ini secara paralel ada pada ketiga Injil sinoptik (Mat 22:34-40; Mrk 12:28-34; dan Luk 10:25-37 : orang Samaria yang baik hati). Ketiga Injil tersebut menampilkan tema yang sama tetapi dalam konteks yang khas dan berbeda satu sama lain.

Jawaban Yesus “merangkum” semua hukum dalam Hukum Taurat yakni “Mengasihi Allah dan Mengasihi Sesama.” Di dalam kedua hukum ini terkandung semua hukum dalam Hukum Taurat dan Kitab para Nabi. Mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran yang penuh yang melibatkan hati dan akal budi yang keluar dari keyakinan yang mendalam (segenap jiwa) dan tekad yang membara (segenap kekuatan). Singkatnya mengasihi tanpa pamrih, penuh pengorbanan dan tanpa motif-motif tersembunyi yang tidak baik.

Mengasihi sesama adalah perwujudan nyata dari kasih kepada Allah, karena sesama itu seperti diri kita punya suka dan duka kehidupan. Kasih model ini tidak melihat sesama sebagai saingan yang harus dilenyapkan melainkan sebagai sahabat. “Aku menyebut kamu sahabat karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah kudengar dari Bapa-Ku” (Yoh 15:15, Perintah untuk saling mengasihi). Hukum kasih model ini menghilangkan segala bentuk relasi yang mengandung “jarak” seperti hubungan guru dan murid, tuan dan hamba, majikan dan orang upahan dan mengubahnya menjadi relasi “Resiprokal” atau relasi timbal balik. Dalam relasi “kesalingan” itu, tersedia ruangan baru bagi berkembangnya nilai-nilai kemanusiaan yang mengangkat harkat dan martabat manusia yang beradab.

Dengan memberi jawaban seperti itu, Yesus menunjukan inti ajaran Taurat dan Kitab para Nabi. Yesus sungguh memahami hal ini karena Dia sendiri dan seluruh hidup-Nya merupakan perwujudan dari kedua hukum utama ini. Hal ini sekaligus menjadi pelajaran bagi kita bahwa inti hidup beragama itu sebetulnya menomorsatukan Allah dan sesama dan bukan aturan-aturan agama semata yang malah bisa menjauhkan orang dari sesama dan dari Allah sendiri.

Dalam Ekaristi kudus ini, saudara-saudara kita para frater tingkat III akan dilantik sebagai Lektor-Akolit dengan tugas pokok untuk melayani Mimbar Sabda dan Altar Kurban. Harapannya ialah bahwa pelantikan ini tidak Cuma sebatas ritual seremonial tanpa makna, tapi harus dibarengi dengan praktik hidup yang benar. Kita mesti tahu dan memahami betul peran dan tanggung jawab sebagai petugas lektor dan akolit. Oleh karena itu pembekalan untuk itu sudah diberikan.

Tadi di dalam amanat, romo prases sudah menegaskan beberapa butir penting tugas sebagai lektor yakni

  1. Mewartakan sabda Allah dalam perayaan liturgi dan kesaksian iman,
  2. Memberi pengajaran iman kepada anak-anak dan kaum muda serta persiapan-persiapan penerimaan sakramen lainnya,
  3. Memaklumkan kabar baik atau Injil keselamatan Allah dalam Yesus Kristus,

Selain itu juga ada beberapa tugas dan kewajiban sebagai akolit yakni:

  1. Harus hidup dari korban Kristus dan menyesuaikan diri dengan korban Kristus,
  2. Memahami arti terdalam dari apa yang dibuat supaya dapat menyerahkan diri setiap hari kepada Tuhan sebagai suatu persembahan yang layak melalui Yesus Kristus.

Jadi, penghayatan yang benar akan peran dan fungsi sebagai lektor dan akolit mengandung konsekuensi yang mesti terpancar dari seluruh diri dan perilaku yang sesuai dengan tuntutan kemuridan Yesus seperti jemaat di Tesalonika yang menerima sabda Allah dan menghayatinya secara benar sehingga dapat memancarkan sinarnya yang membias dan memantul ke wilayah-wilayah sekitarnya seperti Makedonia dan Akhaya atau seperti orang Israel yang dituntut untuk peka dan bersolider dengan kaum paling lemah dan miskin seperti orang asing, para janda dan yatim piatu, juga semua ynag terlilit utang. Secara lain, bisa dibahasakan dalam bahasa Injil hari ini, “Belajar untuk mewujudkan cinta kita secara konkret kepada Allah dan sesama sebagai pemenuhan hukum utama dalam tugas pelayanan sebagai lektor dan akolit demi pemuliaan Allah dan demi kasih kepada sesama. Proficiat! Tuhan memberkati!

 

Post SebelumnyaRenungan 24 Februari 2020
Post SelanjutnyaSPIRIT OF YOUNG PEOPLE | ENGLISH CORNER NOVEMBER 2020 BY RITA ENGLISH CLUB