CAESAR MENEMUKAN GAMBAR DIRINYA DALAM KOIN, ADAKAH TUHAN MENEMUKAN GAMBAR DIRI-NYA DALAM JIWA KITA?


Bacaan I:  Yes. 45: 1- 4, 6
Bacaan II: Tes. 1: 1- 5b
Injil:            Mat. 22: 15-21


Godaan terbesar dalam diri manusia yakni kehendaknya untuk selalu dikenang. Jadi ia dikenal, misalnya dengan mendapatkan predikat-predikat tertentu dalam pelbagai bidang kehidupan, mendapatkan banyak penghargaan, dihormati dan disanjung. Misalnya Suharto dikenal sebagai bapa pembangunan, kemudian muncul foto wajahnya di mata uang, di dalam prangko dll. Semuanya itu bertujuan untuk melegitimasi kekuasaanya di dunia: meskipun sudah mati tetapi pengaruhnya, namanya, jasanya pasti akan selalu dikenang. Caesar juga melakukan hal demikian; wajahnya terpampang di dalam coin.


Saya kira godaan yang sama juga melanda kita semua saya dan kalian. Kita cenderung merasa paling, mampu, paling hebat, paling suci, paling baik, paling berjasa dari yang lainnya. Inilah yang membuat kita menjadi sombong, angkuh dan tidak peduli dengan orang lain, bahkan cenderung merendahkan orang lain dengan pelbagai alasan, dengan patokan atau titik tolak dari diri sendiri. Kita mau supaya kita selalu dihormati dan dikenang untuk seterusnya.


Umat beriman yang terkasih, 
Narasi yang kita dengar dalam bacaan pertama Kitab Yesaya menunjuk pada seorang yang tidak mengenal Allah, tetapi digunakan Allah untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan yang datang untuk membebaskan bangsa Israel dari pembuangan. Demi Yakub HambaNya dan demi Israel bangsa pilihan, Allah melegitimasi kekuasaan Koresh dengan mengurapinya dan memegang tangan kanannya untuk menaklukkan bangsa-bangsa yang ada di hadapannya, membuka pintu-pintu gerbang yang tertutup sebagai simbol pembebasan bangsa Israel dari bangsa-bangsa yang telah menawan mereka. Satu saja tujuan yang hendak dicapai yakni supaya semua bangsa, terlebih bangsa Israel harus mengakui bahwa tidak ada yang lain selain Allah-Yahwe adalah adalah satu-satunya Allah mereka. Bangsa Israel harus kembali mengakui hanya satu Allah mereka, yang menuntun mereka kepada keselamatan dan bukan pada allah-allah lain yang menghantar mereka kepada kebinasaan. Hanya dalam Allah mereka kembali menemukan segala kebaikan yang dapat mereka nikmati.


Umat beriman yang terkasih,
Semua kebaikan datang dari Allah. Jadi tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari pendosa, tetapi dari Allah di dalam kristus. Melalui Kristulah orang berdosa diampuni dan ditebus dosa-dosanya, kemudian dia menjadi orang baik karena diselamatkan oleh Kristus. Paulus menyadarkan umat di Tesalonika, akan arti sebuah pilihan yang yang dijatuhkan Allah atas diri mereka melalui pewartaan Injil Allah. Hal ini terjadi bukan karena kata-kata yang keluar dari mulut Paulus melainkan oleh kekuatan Roh Kudus dan kepastian yang kokoh. Karena itu, jemaat di tesalonika diharapkan untuk hidup dalam amal iman yang benar, dengan usaha kasih yang tulus dan ketekunan dalam harapan yang kokoh di dalam Tuhan Yesus Kristus.


Matius dalam Injil yang kita dengar tadi menampilkan satu teknik jebakan yang dipoles dengan kata-kata sanjungan sengaja dibuat oleh orang-orang Farisi untuk dijadikan alasan supaya dapat menjerat Yesus atas kata-kata atau sikap yang diambil berkaitan dengan membayar pajak kepada Kaiser. Yesus bukanlah seorang pemberontak; yang diharapkan untuk memberontak melawan Kaiser-penjajah bangsa Yahudi. Tetapi Yesus justru mengharapkan para muridnya harus memenuhi kewajiban sipilnya. Dengan cara inilah Gereja pertama memahaminya (Rm. 13: 1-7): “Karena pemerintah adalah Hamba Allah untuk kebaikanmu…. karena itu kamu harus membayar pajak. Karena mereka yang mengurusnya adalah pelayan-pelayan Allah”. Juga dalam 1Ptr. 2,13-17: “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi…”. Tetapi apa yang penting dan menentukan, dan yang tampaknya tidak membuat orang Farisi khawatir yakni apa yang harus diberikan kepada Allah. Karena mereka mengharapkan jawaban yang kontroversial, prihal apa yang seharusnya diberikan kepada Kaisar, tetapi tidak mereka temukan dalam jawaban Yesus atas jebakan mereka. Yesus sebenarnya mau menegaskan bahwa pemujaan dan penyembahan kepada Tuhan, tidak harus melawan atau bertentangan dengan negara. Negara maupun realitas lain di dunia ini tidak dapat mengklaim apa yang secara eksklusif merupakan hak Tuhan.


Umat beriman yang terkasih,
Dalam kekuatan Roh Kudus kita semua dipanggil dan diutus untuk mewartakan kebaikan, keselamatan kepada semua orang, khususnya dalam situasi dunia saat ini yang sedang dilanda wabah virus corona. Misi harus merupakan sebuah gerakan Roh yang menjadi kekuatan utama untuk memberikan kesaksian yang hidup. Melalui kesaksian iman dan pewartaan injil, Al1ah bisa terus menyatakan cinta-Nya dan dengan cara ini menyentuh dan membarui hati, budi, tubuh, masyarakat dan budaya di setiap tempat dan zaman. Demikian pesan Paus berkenaan dengan Minggu Misi Sedunia yang ke-94 yang kita rayakan pada hari ini. Tuhan harus menjadi kekuatan absolut yang dapat memenangkan setiap perjuangan kita untuk melawan kekuasaan dunia yang ingin menggantikan tempat Tuhan di dunia.
Ada beberapa poin yang dapat kita petik dari permenungan kita hari ini yakni:


1. Allah selalu mempunyai cara untuk membebaskan kita dari belenggu dosa yang membuat hidup kita tertutup dan menderita. Melalui Yesus PuteraNya, kita semua ditebus dan diampuni serta dibebaskan dari dosa dan kemudian dihantar kepada keselamatan. Dalam hidup harian kita, Tuhan juga menggunakan sesama yang selalu membuka jalan dan menunjukkan arah bagaimana seharusnya kita berjalan dalam kebenaran menuju Allah. Bagaimana seharusnya kita memformasi diri di dalam kesadaran dengan tuntunan Roh, berkomitmen dan konsistensi kita sebagai orang-orang terpanggil.


2. Manusia, para pemimpin negara dan masyarakat, pemimpin gereja, kita semua tidak dapat melegitimasi kekuasaan di luar kebenaran sejati-kekuasaan yang absolut yakni Tuhan sendiri. Sebagaimana Caesar menemukan gambar dirinya di dalam koin yang akan dipakai untuk membayar pajak, adakah Tuhan menemukan gambar wajahNya-diriNya di dalam diri kita yang sedang menempa diri di lembaga formasi ini untuk dipersembahkan bagiNya dan bagi sesama di sini maupun terlebih kelak ketika kita menjadi imam?


3. Allah telah memilih kita, bukan hanya untuk tahu menikmati kebaikanNya, melainkan kita mesti membagikan kebaikan Tuhan kepada sesama melalui amal iman yang benar, usaha kasih yang tulus tanpa pamrih, serta ketekunan dalam pengharapan akan Tuhan Yesus yang telah memanggil dan memilih kita menjadi murid-Nya.


4. Tempat ini, lembaga formasi ini, saya kira menjadi tempat terbaik bagi siapa saja yang dengan niat tulus dan kehendak yang kuat membentuk dirinya untuk menjadi pewarta Injil dan pelayan Tuhan dan sesama. Karena itu hindarilah kecenderungan bagi kita untuk melegitimasi kehebatan intelektual dan kesombongan spiritual, kemudian pada saat yang sama kita merendahkan sesama. Karena itu kita belajar dari Paulus, yang dengan rendah hati dan setia mendoakan jemaatnya. Kita sering berdoa bersama, tetapi jarang kita berdoa untuk sesama yang paling dekat dengan kita setiap hari, dalam komunitas, yang mungkin, belum mampu mendisiplinkan dirinya, yang mungkin masih hidup dalam kemunafikan dan tidak jujur.


5. Orang pintar banyak, orang yang kuat secara fisik juga banyak, orang tekun dalam doa juga banyak, tetapi sedikit orang yang memiliki mental yang kuat untuk bertahan dan konsisten. Dalam Roh Kudus kita pasti bisa dan gambar diri Allah semakin nyata di dalam diri dan hidup kita setiap hari. Amin

Post SebelumnyaRenungan 24 Februari 2020
Post SelanjutnyaPELANTIKAN LEKTOR DAN AKOLIT | RENUNGAN MINGGU PEKAN BIASA XXX OLEH RD GUIDELBERTUS TANGA