Mar 31 2016

Jumat Agung

Semua dalam keheningan. Itulah suasana yang dirasakan komunitas Rita hari ini. Suara-suara gaduh di lorong-lorong tidak lagi terdengar. Komunitas Rita seperti komunitas mati. Keheningan ini sungguh menjadi media dalam merefleksikan kematian Yesus Kristus. Dalam tema “Kurban Salib Sumber Kerahiman Ilahi” komunitas Rita merayakan Jumat Agung, peringatan kematian Yesus dan penyembahan salib Yesus.

Dalam homilinya, Rm. Ansel menguraikan hal ikhwal berkenaan dengan Jumat Agung. Beliau menguraikan secara eksplisit hal-hal besar yang terjadi seputar kematian Yesus yaitu kegelapan, gempa bumi, dan terbelahnya tirai bait suci. “Ketiga kejadian besar ini mau menunjukkan bahwa Allah sedang menunjukkan Kemahakuasaan-Nya serentak melukiskan bahwa alampun turut berdukacita atas kematian Yesus Kristus.” Tegas Romo Ansel. Lebih lanjut Romo Ansel mengharapkan agar semua umat melihat kematian Yesus sebagai tanda Kerahiman Allah bagi umat-Nya sekaligus mengajak umat yang hadir  berkorban dalam menampakkan kerahiman Allah bagi sesama.

Perayaan Jumat Agung sore itu berlangsung khusyuk. Semua umat tenggelam dalam situasi penuh keheningan. Upacara penyembahan salib menjadi momen paling mengharukan. Semua umat bersujud, merendah, dan mencium Yesus yang tersalib. Dari pancaran wajah dapat diambil sebuah refleksi bahwa umat sangat terharu pada momen suci ini. Terpancar suatu kerinduan untuk dekat dan merenungkan kematian Yesus pada salib. Nyanyian-nyanyian yang dibawakan oleh koor fratres Tingkat II juga sungguh menghantar komunitas Rita dan umat yang hadir dalam suasana berkabung. Selain itu, kisah sengsara Yesus yang dinyanyikan oleh Fr. Enjel, Fr. Yogi, dan Fr. Hendrik dapat membuat suasana semakin khidmat. Lihat kayu salib tempat Selamat dunia bergantung. Marilah kita sembah.