Apr 11 2013

Berita Tahbisan Diakon 2013

SAPAAN PRAESES

Rm. Edwaldus M. Sedu, Pr

Rm. Edwaldus M. Sedu, Pr

Perayaan pentahbisan diakon angkatan 2013 ini masih dalam nuansa pesta paskah karena itu layak kami sampaikan sekali lagi salam paskah kepada kita sekalian,

 Bersamaan dengan itu, tahun 2012 hingga tahun 2013 dalam lingkup Gereja katolik sedunia dikenal sebagai tahun iman. Sejak dicanangkan oleh Sri Paus Benediktus ke-16 pada tanggal 11 Oktober 2012 dan akan berakhir pada tanggal 24 November 2013 yang kan datang, seluruh umat katolik, khususnya para imam dan calon imam coba melihat kembali panggilannya  sebagai pelayan sabda dan pelayan altar Tuhan dalam komunitas iman,  dalam Gereja di tengah dunia ini yang berakar dalam Kristus sendiri. Dengan demikian hidup dan karya para imam, para diakon yang tinggal menunggu saatnya untuk menjadi imam tetap dalam semangat sebagai pelayan, hamba Allah yang sungguh beriman, rendah hati, setia dan jujur sertasiap diutus untuk mewartakan kasih Tuhan di seantero jagad ini.

Peristiwa pentahbisan  diakon di tahun 2013 ini dalam bingkai kehidupan gereja universal dan kehidupan berbangsa, bermasyarakat khususnya di bumi NTT, juga di Sikka tercinta ini memiliki makna pembelajaran tersendiri bagi para diakon, di satu pihak kehadiran pemimpin gereja yang baru dalam diri Paus Fransiskus dengan segala kesederhanaanya dan yang menekankan keteladanan hidup yang berakar sungguh dalam Kristus sendiri mesti memperkuat komitmen kita untuk menghidupi nasihat-nasihat injil, mesti memperkuat komitmen kita dalam aksi pelayanan pastoral kita; di pihak lain konteks hidup sosial kita dengan perhatian utama pada pilgub dan pilkada yang sama-sama memasuki putaran kedua mengerucutkan pelbagai keinginan dan tuntutan masyarakat akan kehadiran seorang pemimpin dengan kualitas hidup susila yang baik, sungguh seorang beriman, yang jujur dan punya hati untuk masyarakatnya serta tidak takut dikritik, tidak menjadi Yudas Iskariot dan Pilatus yang baru, membawa dampak bagi para pemimpin umat: para imam, para diakon untuk tidak melihat tahbisan sebagai sarana untuk mendulang hak istimewa, memintah perlakuan khusus dan menjadi besar kepala tetapi sebaliknya harus berjuang untuk hidup lebih baik dari hari ke hari…..

Karenanya sungguh dimaklumi bahwa untuk mempersiapkan seseorang menjadi diakon dan kemudian menjadi imam bukanlah pekerjaan yang mudah. Dengan melihat ‘durasi waktunya’ saja yang dibutuhkan untuk menjadi imam dapat dipahami bahwa menjadi imam mensyaratkan kematangan dan kedewasaan fisik maupun psikis, rohani maupun jasmani. Diyakini betul bahwa menjadi imam adalah sebuah anugerah, karunia bagi pribadi yang terpanggil, bagi keluarga dan Gereja setempat namun tidak mengabaikan jawaban-keputusan bebas manusia calon imam tersebut dalam bentuk kesediaan untuk membina diri dan didampingi, kesediaan untuk mendidik dirinya sendiri dan dibentuk sesuai tuntutan Gereja dan tuntutan riil dunia di mana Gereja berada…..

Karena itu lamanya pembinaan, pendidikan, mulai dari seminari menengah hingga seminari Tinggi sekitar 15 tahun, tidak boleh dilihat sebagai penggunaan waktu yang berlebihan tetapi apakah dalam kurun waktu tsb. seorang calon itu telah siap lahir dan bathin untuk menjadi seorang imam atau tidak…….bahkan kurun waktu tersebut masih kurang untuk yang belum siap…

Dan pentahbisan diakon seperti hari ini sebenarnya sebagai suatu penyampaian publik bahwa saudara, anak-anak kita ini telah siap dan layak ditahbiskan menjadi imam kelak. Proficiat untuk para diakon.

Ibu, bapak, saudara-saudari…

Proses pembinaan menjadi imam dengan tahbisan diakon sebagai tahap akhir dari seluruh kegiatan pendidikan formal di seminari tinggi, terselenggara, bukan tanpa bantuan pribadi, orang atau pihak lain.

Dalam kaitan dengan hal ini, kita patut bersyukur kepada Tuhan untuk tuntunan dan bimbingannya sehingga segala sesuatu teristimewa kegiatan pembinaan dan peristiwa hari ini bisa berjalan dengan baik.

Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada orang tua, bapak dan mama para diakon, kakak dan adiknya, kaum keluarga yang rela memberikan anaknya dan turut mengambil bagian bersama kami dalam mendampingi mereka untuk menjadi diakon dan kemudian menjadi imam.

Kami menghaturkan limpah terimakasih kepada para bapak uskup,  pimpinan ordo Carmel, yang sangat serius memperhatikan kehidupan dan kegiatan pembinaan para calon imamnya. Secara khusus kepada bapak uskup Larantuka sekaligus sebagai uskup pentahbis para diakon angkatan 2013 ini, sungguhpun memiliki banyak kesibukan namun bersedia  datang ke ritapiret ini untuk menahbiskan ke-13 diakon.

Kami menyampaikan banyak terima kasih juga kepada pemerintah Sikka, bapakcamat, kapolsek dan kepala desa nita beserta jajarannya masing-masing yang turut mengambil bagian dalam penyelenggaraan pendidikan para calon imam lewat perhatian, bantuan dan pemberian jaminan untuk terlaksananya kegiatan pembinaan dengan aman;

Juga kami menyampaikan banyak terima kasih kepada para pendamping, pembina di seminari, STFK dan para dosen STFK ledalero;

Dan terakhir namun bukan yang terabaikan, kami menyampaikan banyak terima kasih kepada panitia pentahbisan diakon 2013, petugas liturgi, anggota koor, para romo, para suster OSF karyawan-karyawati, umat lingkungan Santu Petrus Ritapiret serta semua pihak yang membantu terselenggaranya kegiatan pentahbisan diakon hari ini.

Maafkalnah kami bila ada yang kurang berkenan pada perayaan dan acara tahbisan diakon ini.

TUHAN MEMBERKATI!

DIAKON THOMAS AQUINAS LELE

”Kamu adalah Milik Kristus” (I Kor. 2: 23). 6

Seorang anak manusia terlahir dan melahirkan totalitas hidupnya untuk menjadi seorang imam. Ka’e diakon  satu  ini sarat dengan keramahan, rendah hati, sederhana, berjiwa pemimpin dan sangat cocok menjadi penjala manusia. Memang tidak salah Tuhan memilih dia. Dengan modal kecermatan dan ketertarikan melihat figur seorang pastor paroki yang nota bene Imam Projo di parokinya serta melihat penampilan para frater separokinya dan frater Topernya, si Aken, demikian panggilan manis, ka’e Diakon yang bernama lengkap Thomas Aquinas Lele yang terlahir di Ndona tertanggal 8 November 1985 ini, maka munculah biji panggilan  sejak SD yang sekarang telah berbuah menjadi seorang diakon  milik paroki St. Maria Imaculata-Ndona, keuskupan Agung Ende.

Baptisan nama Tommy, demikian  panggilan yang diberi oleh pasutri Bapak Leonardus Lebi (Alm.) dan  Ibu Paulina Ona. Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini dengan penuh konsekuen dan tanggung jawab yang pasti memilih jalan panggilan suci tuk menjadi seorang imam Diosesan keuskupan Agung Ende.

Jenjang pendidikan, Ia mulai di bangku SD, tepatnya St. Petrus Ndona 2 tahun 1992-1998, kemudian SMP dan SMA tahun 1998-2001; 2001-2004 di Seminari Mataloko. Selepas dari  Mataloko, Ka’e diakon  yang  hobi baca koran dan lopas ini, dengan pasti menjejakan kakinya di Lela untuk menjalani masa TOR tahun 2004. Seusai berlayar di Lela, ka’e yang berjiwa humor ini juga dengan teguh mencoba berlayar ke Ritapiret tuk menjalani masa studi filasafat bertempat di STFK Ledalero sejak tahun 2005 hingga 2009. Dengan modal Filsafanya, ka’e Socius untuk tingkat II ini mengayunkan kaki ke medan TOP di Seminari Toda Belu-Mataloko. Dengan ini, jiwa kepemimpinan ka’e semakin dipertangguh untuk menyiapkan diri menjadi seorang pemimpin. Entah bertugas di paroki ataupun kembali ke Seminari Mataloko nantinya, yang pasti Ka’e diakon ini sudah makan garam luar dalam di arena kepemimpinan.

Dengan pendasaran pada pola hidupnya yang mengabdikan diri secara total kepada Allah, maka ka’e Aken memilih Motto Tahbisannya “Kamu adalah Milik Kristus” (I Kor. 2: 23). Alasan pemilihan Motto ini dengan dasar refleksi dari Ka’e diakon bahwa Ia adalah bagian dari bangunan Kristus. Semua yang Ia kerjakan adalah demi kerajaan Allah, bukan untuk pengabdian akan kepentingan dirinya sendiri. Proficiat Ka’e Diakon…..

DIAKON ALFIANUS MULAN KABELEN

Kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42).

4

Kae Alfin. Itulah sapaan manis yang sering dilontarkan oleh aji-ajinya di Bunda Rita. Kae yang satu ini memiliki hobby Lopas dan bermain badminton. Tiada jam olahraga dilaluinya tanpa melakukan salah satu dari dua hobinya ini. Tak heran jika badannya terlihat sedikit gempal. Anak pertama dari 3 orang bersaudara ini mengedepankan sebuah prinsip “di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat’. Prinsip inilah yang mendorongnya untuk terus melakukan dua hobbynya itu.

Anak dari pasangan Bapak Yohanes Lawe Kabelen (alm.) dan Mama Sisilia Lepan Hera (almh.) selalu menuturkan bahwa rajutan kisah panggilan hidupnya menjadi imam mulai tumbuh sejak kecil. Tekad untuk menjadi  imam ia sampaikan saat  masih duduk di SDK Larantuka V (1991-1997). Setelah menamatkan SD, ia  melanjutkan petualangan intelektualnya di SMP St. Gabriel Larantuka (1997-2000). Saat inilah ia  semakin mengerti dan tahu tentang panggilan hidup menjadi imam. Keinginan dan cita-citanya  menjadi imam semakin kuat dalam dirinya. Cita-citanya menjadi imam semakin mekar dan bertumbuh subur ketika berada di Seminari San Dominggo – Hokeng, alhasil semua duka  dapat ia lewati dan semua kisah dapat dilalui bersama panggilan ini. Kisah panggilannya dilanjutkan di TOR Himo Tiong Lela-Maumere (2004). Tak hendak berlangkah pada jalan lain, ia melanjutkan pendidikannya di STFK Ledalero (2005-2009) sambil menempati bilik-bilik  di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Kekuatan panggilannya semakin kuat saat menjalankan Praktik Pastoral di Paroki Kunjungan St. Perawan Maria Pamakayo pada tahun 2009-2011. “Seiring dengan berjalannya sang waktu, kisah panggilan ini terus kugoreskan pada lembaran hidupku. Pengalaman jatuh-bangun semasa di seminari tinggi dan medan pastoral semakin membulatkan niatku berserah kepada-Nya, karena kuyakin semua indah pada waktunya”, katanya pelan dan berwibawa. Kemudian studi Teologi ia teruskan di SFTK Ledalero (2011-2013) sambil mempersiapkan diri menjadi imam.

Pria kelahiran Larantuka, 20 Januari 1985 ini memilih motto tahbisan yaitu “Kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk. 22:42). Diakon yang pernah menjadi Sekretaris Inti fratres ini memulai refleksi mottonya dalam alur “KASIH SETIA”. Dalam nada sederhana ia berkata,”Kusadari dalam setiap kisahku, dalam alunan derap langkahku, sungguh ku tak punya kekuatan dan kepercayaan diri. Namun ku selalu mencoba dan mencoba, belajar dan memahami arti penyerahan diri, yang menjadikan diriku seperti sebuah kilauan yang mana menantikan Cahaya terang, tuk memancarkan kasih setia itu sendiri.. Ketika itupun kuberjalan kokoh dalam kesuraman, ku melangkah dalam kepasrahan, bertatih-tatih kumeraih ‘tuk memenuhi undangan-Mu. Tuhan… Hingga detik ini kuserahkan semua yg kupunya hanya pada-Mu, karna ku tahu hanya kehendak-Mulah yang terjadi…”. Sebuah refleksi yang begitu mendalam tentang arti sebuah panggilan kepada Kristus.

Akhirnya diakon mempunyai talenta dalam urusan komputer menyampaikan kesan dan pesannya kepada warga Rita terutama para Frater agar tetap mencintai panggilan dan cita-citanya demi cinta Tuhan dan sesama. Bunda Rita adalah bunda tercinta yang selalu memancarkan sinar cintanya kepada anak-anaknya… thanks ka’e Diakon. Proficiat dan Jelou….

DIAKON ALEXIUS ARWANDI JERAMAT

“JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN”

Magnificat anima mea dominum

(Lukas 1:46)

8

Diakon Andi dikenal dengan kepribadian yang ramah, murah senyum, ganteng, rendah hati, low profile, tenang, dan cerdas. Pria tampan berkacamata ini memiliki nama lengkap Alexius Arwandi Jeramat. Ia dilahirkan di Nekang, Ruteng, pada tanggal 17 juli 1985 sebagai buah kasih dari pasangan Bapak Geradus Jeramat dan Ibu Yosefina Kendo. Ia memulai petualangan intelektualnya di SDK St. Theresia Ruteng V pada tahun 1992-1998. Pada tahun 1998, Andik kecil berhasil melanjutkan pendidikan di SMP dan SMA Seminari Pius XII Kisol. Setamat SMA di Seminari Pius XII Kisol, ia memutuskan untuk berbakti sebagai pelayan umat di keuskupannya sendiri. Karena itu, ia melamar untuk menjadi imam Keuskupan Ruteng. Sejak saat itu ia memulai proses panggilanya dengan melangkah pasti menuju Tahun Orientasi Rohani dari  tahun 2004-2005. Setelah menyelesaikan masa-masa indah di TOR Lela dan dinyatakan layak untuk melanjutkan pembinaan di rumah Rita, ia berhadapan dengan sebuah tantangan baru yang menuntut kebijaksanaannya yaitu menyelesaikan empat tahun akademik di STFK Ledalero. Ketekunan menjadi sahabatnya dan berkat ketekunan itu, ia berhasil menyelesaikan empat tahun secara sempurna.

Setelah berhasil meraih gelar Sarjana, dia diutus oleh Uskup untuk menjalankan praktik pastoral di Paroki Santa Maria Ratu Rosari di Reo dari tahun 2009-2011. Di tempat inilah ia mengalami banyak peristiwa dan pengalaman yang menarik nan mengesankan. Waktu dua tahun  tak terasa begitu lama baginya dalam menjalankan praktik itu. Dengan keputusan yang bersih dan kokoh, ia pun kembali ke pangkuan Bunda Rita. Dia begitu menghargai waktu dan karya Tuhan yang selalu menemaninya semenjak menempuh jalur pendidikan calon imam ini. Dengan penuh ketenangan dan kerendahan hati, ia menekuni panggilannya secara serius. Pernyataan sikap inilah yang membuatnya terus berjuang untuk menghabiskan studi teologi di STFK Ledalero dan pada akhirnya dinyatakan berhasil.

Diakon Andik mengambil motto tahbisannya dari injil Lukas  1:46 : Jiwaku memuliakan Tuhan”. Dalam ruang  refleksinya dia sungguh percaya pada Penyelenggaraan Ilahi yang berkarya atas dirinya. Kesanggupannya dalam menjalani panggilan ini dilihatnya sebagai pekerjaan Allah. Magnificat menjadi jawabannya untuk mengungkapkan kebaikan Tuhan. Bagi pria tampan yang satu ini, Tuhan bukan hanya sebatas kabar gembira untuk dirinya, tetapi juga harus menjelma menjadi kegembiraan bagi orang lain. Kabar gembira harus diwartakan dengan penuh kegembiraan.

Diakon Andik memiliki kesan menarik terhadap seluruh proses formasi yang didapatnya di rumah Rita ini. Di dalam refleksinya yang begitu mendalam dia menyatakan bahwa ada banyak hal luar biasa yang dialaminya dalam kehidupan berkomunitas di lembaga calon imam keuskupan ini. Ada irama hidup yang anggun, kekompakkan dalam tim, kerjasama dalam suasana persaudaraan, kritik yang membangun, motivasi dan pemberian ruang yang luas untuk pengembangan diri, idealisme dan kreativitas. Pengalaman jatuh bangun dalam proses belajar baginya merupakan suatu proses yang alamiah sehingga tidak perlu disesali tetapi cukup direfleksikan perbaikan diri ke depan dan banyak lagi hal yang lainnya. Baginya,  kerendahan hati dan keterbukaan menjadi syarat untuk bisa berkembang dalam dalam formasi. Proficiat ka’e.

DIAKON BENYAMIN JEGAUT

”Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan Dunia” (Yoh 6:33). 3

Kae Benyamin Jegaut. Demikian nama panjang diakon yang biasa disapa kae Benya ini. Ia dilahirkan di La’o, Ruteng pada 20 April 1985. Masa kecilnya dilalui di La’o yang merupakan bagian dari paroki St. Nikolaus Golo Dukal. Ia memulai pendidikan dasarnya di SDI La’o pada tahun 1992-1998. Diakon yang terkenal ramah dan penuh humor ini adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Buah kasih Bapak Lambertus Satu dan Ibu Monika Jeliut ini sangat tertarik dengan imam parokinya yang terkenal ramah dan melayani tanpa  pamrih. Ia hidup dalam keluarga yang saleh, Bapa dan Mamanya membiasakan anak-anaknya untuk selalu berdoa sebelum tidur malam. Hal ini menjadi semacam gaya hidup yang tidak pernah dilepaskan dari kehidupan diakon Benya. Ia kemudian mengikuti testing masuk seminari Kisol. Pada Tahun 1998, ia amat bergembira karena ia lulus seminari dan dengan demikian ia boleh mengecap pendidikan di seminari Kisol. Hari-hari dilalui dengan amat indah, pengalaman-pengalaman turut membentuk kepribadiannya. Pada tahun 2004, ia menamatkan pendidikan di Seminari Kisol dan melamar menjadi calon imam keuskupan Ruteng. Lamarannya diterima dan ia bergabung di TOR Himo-Tiong Lela tahun 2004, dan memulai Studi Filsafat di STFK Ledalero pada tahun 2005-2009. Masa TOP dilaluinya di seminari Petrus Van Diepen Aemas, Sorong, Papua Barat pada tahun 2009-2011. Hobinya dalam bidang sepak bola dan badminton membuat ia mampu bersaing dengan seminaris papua yang badannya yach lebih besar dari kae Benya, namun toh ia tetap menjadi terdepan, maklum pembina toh. Setelah bertualang di tanah Papua, ia kembali ke Bunda Rita dan melanjutkan Studi Teologi di STFK Ledalero sejak tahun 2011-2013.

Diakon yang biasa dipanggil dengan nama manis kae Nya ini, memilih motto dari Yoh 6:33, yang berbunyi ”Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan Dunia”. Dalam segala kesulitan, pergolakan hidup dan sengsara, Yesus tetap menjadi penopang, dan penolong karena Ia telah menjadi pemenang. Demikian spiritualitas yang diambil diakon Nya dalam menapaki  jalan Panggilan Tuhan ini. Tuhan memanggilnya menjadi Alter Christi (Kristus yang lain), dan akan menang menghadapi tantangan dunia, mengikuti Kristus teladan pemenang sejati. Kae Nya adalah seorang sosok yang penuh humor, gagah dan penuh dengan tawaria walau dalam keadaan sulit sekalipun. “Bila bebanmu terasa berat dan bila hatimu terasa berat hadapilah dengan senyum karena Tuhanlah yang menjadi penopang dan penuntunmu”. Ini adalah lirik lagu yang kini telah dinyayikan oleh Kae Benya melalui hidupnya yang penuh dengan keceriaan dan canda tawa. Proficiat kae, kami Ase-asemu akan selalu mendukung kae. Canda, tawa dan kisah yang telah kita rajut bersama akan selalu menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan.

DIAKON INOSENTIUS MANSUR

“AH TUHAN ALLAH”(YER.1:6). 2

Komentarnya menusuk ketika berhadapan dengan adik-adik yang garing; Pandangannya menukik tentang persoalan sosial-politik di tanah air; Namanya terkenal di antero Nusantara karena tajamnya analisis politik yang selalu dimuat dalam media masa lokal; Pribadinya menarik sekaligus sangat rendah hati. Siapakah Dia? Dialah diakon Inosentius Mansur, Pr. Pria yang sering dikenal dengan sapaan manis Ino ini dilahirkan pada tanggal 24 April 1985 di Nderu-Manggarai Tengah. Ia merupakan buah kasih dari pasangan bapak Bernadus Jehatu dan mama Marta Liut (+). Dalam keluarga, diakon yang dijuluki sebagai pengamat politik ini adalah anak ke enam dari enam bersaudara. Pada tahun 1991, SDK Lungar-Pocoleok menjadi tempat pertama bagi Ino untuk mulai memasuki pergulatan intelektual secara formal. Di jenjang pendidikan dasar inilah si kecil Ino mulai tertarik pada hidup dan panggilan sebagai seorang imam. Katanya ketertarikan itu bermula ketika Pastor Paroki Ponggeok kala itu selalu membagi-bagikan bombon dan berbagai makanan kecil lainnya kepada anak-anak seusai perayaan ekaristi hari minggu. Besar kemungkinan, ia memiliki keinginan menjadi pembagi bombon. Ketika menamatkan pendidikan dasar pada tahun 1997, ia tidak langsung mengayunkan langkahnya ke lembaga pendidikan calon imam, melainkan lebih memilih untuk mengeyam pendidikan menengah pertama di Ponggeok. Hal ini tidak berarti cita-cita menjadi imam yang dimiliki pria hitam manis ini menjadi hilang. Pepatah klasik”banyak jalan menuju Roma” yang keluar dari mulut bapak Bernadus Jelatu terus menjadi motivasi bagi pria Nderu ini untuk tetap bertahan pada impiannya menjadi pembagi bombon (baca;imam) seperti yang dilakukan pastor parokinya di Ponggeok. Pada  Tahun 2000, ketika menamatkan pendidikan menengah pertama di kampung halamannya, secercah harapan akan imamat dari si kecil Ino mulai diperjelas dengan melanjutkan pendidikan di lembaga pendidikan calon imam Seminari Paulus II Labuan Bajo. Di sinilah bocah kecil dari Nderu mulai menyandang predikat sebagai calon imam. Empat tahun dibina dan dibentuk di Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo, benih panggilan dalam dirinya terus bertumbuh subur. Situasi jatuh bangun yang dialami oleh dirinya sendiri dan keluarga tidak menjadi sebuah tantangan yang melayukan panggilan si kecil Ino untuk menjadi imam. Dan pada tahun 2004, pria manis berkacamata ini maju selangkah ke sebuah lembaga pembinaan calon imam diosesan yang dikenal dengan Tahun Orientasi Rohani. Di sinilah Ino mulai disapa sebagai Frater. Setelah dibina di TOR, Fr Ino melanjutkan pendidikan di sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero dari tahun 2005-2009. Di lembaga pendidikan inilah frater Ino dikenal sebagai salah seorang mahasiswa yang memiliki ketajaman beranalisis dan kepiwaian berargumentasi dalam sejumlah media masa lokal, majalah-majalah ilmiah dan lain sebagainya. Hal inilah yang membuat Pria Manggarai Tengah ini menyandang status tambahan sebagai kolumnis dan bahkan dijuluki sebagai pengamat politik. Oleh karena tajamnya analisis tentang masalah-masalah sosial politik, akhirnya pada tahun 2009 Uskup Ruteng menentukan  Paroki St. Petrus Colol-Manggarai Timur(sebuah paroki yang sempat menarik perhatian publik dengan masalah pembabatan kopi) menjadi tempat berpastoral bagi Fr.Ino. Perlu diketahui bahwa selama menjalani masa praktik pastoral kurang lebih dua tahun, Fr.Ino dikenal dengan pembagi gagasan-gagasan solutif terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tanah Colol. Setelah menyelesaikan masa TOP-nya, pada tahun 2011 Frater penggemar Real Madrid ini kembali  melanjutkan studi Teologi di Ledalero. Dan pada bulan maret 2013, Fr Ino menyelesaikan studi Teologinya dan kini telah diurapi rahmat thabisan diakon. Pengalaman jatuh bangun serta berbagai situasi sulit yang dialami akhirnya membuat Diakon Inosentius Mansur,Pr memutuskan untuk senasib dengan nabi Yeremia melalui motto thabisannya”Ah TUHAN ALLAH”(YER.1:6). Dari motto ini diakon Ino sebenarnya mau menunjukkan bahwa meskipun terdapat berbagai kekurangan dan keterbatasan, ia tidak bisa berpaling dari Tuhan. Justru dalam keterbatasan itu Tuhan menggunakannya menjadi pembagi Sabda Allah. Proficiat kae diakon Ino, jejakmu akan kami ikuti..

DIAKON ALEXANDER TERTIUS MAGNUS ROSI

 “Ia Memperhatikan Daku” (Luk. 1:48)7

            Alexander Tertius Magnus Rosi, begitulah nama lengkap dari ka’e kelahiran Ende, 11 Januari 1984 ini. Sebagai seorang yang berakar pada lingkungan Ende dan sekitarnya, ka’e yang akrab disapa Ivo ini, tidak terlalu sulit didekati. Ramah, luwes dan pergaulannya bisa dibilang sangat luas. Dalam karakter itu, tidaklah aneh kalau setiap bertemu dengannya, ia selalu menyapa lebih dahulu.

            Dalam waktu senggangnya, ka’e Ivo selalu menyempatkan diri untuk jogging atau bermain basket. Hoby tersebut sangat klop dengan bobot tubuhnya, yah maklumlah, dia adalah satu-satunya putra dari total sembilan bersaudara dari pasangan Bapak Stefanus Rosi dan Ibu Godeliva Dominika Senda; tentunya ada keistimewaan tersendiri. Posisi putra tunggal dalam keluarga, tidak menghalangi panggilannya untuk menjadi imam. Bermula dari sekadar ikut-ikutan dengan teman-temannya, ka’e Ivo kemudian menjadi utusan dari SDK St. Ursula Ende sebagai seminaris pada SMP (1998-2000) dan SMA (2000-2003) Seminari St. Yohanes Berchmans Todabelu Mataloko.

            Setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA, putra paroki St. Yosef Onekore Ende ini, memutuskan untuk mengarungi petualangan pada tempat pembinaan calon-calon imam diosesan. TOR Himo Tiong Lela (2003-2004), kemudian menjadi tempat pertama perjalanannya. Setelah itu, ia bersama teman-temannya dibentuk secara filosofis pada STFK Ledalero (2004-2008) untuk meraih gelar Sarjana Filsafat. Dua tahun berikutnya (2008-2010) ia kembali ke almamaternya, Seminari Mataloko, dalam rangka orientasi pastoral atau yang biasa disingkat TOP. Pada tahun 2010-2011, ka’e pencinta bunga ini pun kembali ke Ritapiret dan dipercayakan menjadi ketua Sie Konsumsi. Sebagai proses, panggilan memang tetaplah sebuah misteri. Begitu pun bagi perjalanan panggilan ka’e Ivo. Pada tahun 2011-2012, ia harus menjalani praktek pastoral tahap dua di sebuah paroki di ibu kota kabupaten Nagekeo, Mbay. Pengulangan ini tidak membuat ka’e Ivo putus harapan. Ia bertahan dan akhirnya berhasil kembali lagi ke rumah Rita tercinta sebagai ka’e tingkat VI dan akan ditabiskan serta mengabdi pada Keuskupan Agung Ende.

            Melewati masa-masa panggilan yang bagi ka’e ini up-down, tidak terlepas dari refleksi kepasrahan Maria pada Kehendak Allah. Maka dari itu, penyerahan total Maria kepada Allah menjadi spirit dasar pemilihan Motto : “Ia Memperhatikan Daku” (Luk. 1:48). Sebagaimana keadaan Maria yang bagi dunia tidak memiliki apa-apa untuk diandalkan, namun kemudian justru dipakai Allah untuk melakukan karya besar, begitu pula keberadaan ka’e Ivo, yang menurut refleksinya hampir sama dengan keadaan Maria. Dalam motto ini, tersirat penyerahan hati yang hina pada Allah yang telah bersedia memberikan hati itu pada manusia. Semoga ka’e mampu meneladani kesederhanaan Maria yang tidak hanya pasrah dalam doa tetapi juga dalam penghayatan hidup setiap hari. Sukses ka’e!!!!!

DIAKON MIKHAEL SAMON BERAONA

5

Mengenal diakon Mikhael Samon Beraona pasti pikiran pertama mengarah pada sosok Kae Sam, ya itulah sapaan familiarnya. Kae diakon ini dilahirkan di Lamalera – Lembata, 21 Juni 1980 dari seorang bapak Dominikus Diaz Beraona (+) dan Maria Ipa Sulaona. Ia adalah putra ke enam dari enam bersaudara. Jika dilihat dari latar belakang parokinya pasti kita langsung menebak, itu Paroki St. Petrus & Paulus Lamalera-Lembata. Paroki yang sudah menanamkan semangat kekristenan pada diri diakon ini. Asal inilah yang mengangkat namanya juga dalam daftar klerus berlatarbelakang Lamalera, “orang yang berdangsa dengan lautan” kata Ivan Nestroman.

Kae diakon Sam atau yang sering disapa dengan kae ‘Opa’ pernah mengenyam pendidikan di SDK Lamalera-Lembata, SMP Katolik APPIS (Aksi Putra-Putri Ikan Sembur) Lamalera-Lembata, SMA Katolik Swastisari Kupang. Mengkin alasan dasar pendidikan katolik inilah menjadi akar semangat menjadi seorang imam merasuki lubuk hati kae ini. Oleh karena itu, setamat dari SMA, kae Opa masuk dalam keanggotaan Seminari Tinggi Clarentin (CMF) Kupang. Di sinilah kemudian benih-benih panggilan itu semakin berbunga dan mengharumkan semangat kerohanian hidup diakon ini hingga akhirnya ia menamatkan pendidikan filsafat di Fakultas Filsafat Agama (FFA) di UNIKA Widya Mandiri Kupang. Setamat dari FFA Unika dan memenuhi tuntutan untuk pergi ke medan pastoral. Kae diakon ini harus kembali ke wilayah asal keuskupannya untuk menjalankan TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di paroki Sta. Maria Diangkat Ke Surga, Bama-Larantuka. Di tempat ini ia mengalami masa-masa pastoral untuk hidup bersama umat dan merefleksikan panggilan hidupnya. Namun setelah masa TOP-nya berakhir suatu peristiwa menyedihkan, kae ini harus menanggalkan jubahnya. Suatu masa yang sangat terpukul dan menyedihkan bagi sejarah panggilan hidupnya.  Selama hidup sebagai awam ia sedikit mengalami suatu siraman panggilan imamat kembali sehingga ia pun kembali berubah haluan ke jalan semula. Menjadi seorang gembala umat. Jika ditanya, alasan mengapa? Pasti ia menjawab, ia telah merasakan hidup sebagai seorang calon iman dan awam. Pilihan untuk mengikuti salah satunya telah diputuskan.

Untuk melanjutkan panggilan hidupnya sebagai seorang calon iman akhirnya kae ini memutuskan untuk menjadi calon imam keuskupan Larantuka. Oleh karena itu, ia kemudian bergabung bersama bunda Rita untuk menjalankan masa TOR (Tahun Orientasi Rohani) 2010-2011, suatu masa bagi para calon imam keuskupan untuk mengerti spiritualitas imam diosesan. Setelah menyelesaikan masa TOR ini, kae Sam langsung melanjutkan pendidikan teologinya di STFK Ledalero hingga sekarang bisa ini ditahbiskan menjadi seorang diakon.

Refleksi panggilan hidupnya menjadi imam, ia rangkaikan dalam kata-katanya, sebagai berikut; Panggilan hidup membiara adalah sebuah pilihan bebas yang membutuhkan sebuah pertarungan yang maha sengit antara kesetiaan dan dusta. Dan karena merupakan pilihan maka tentunya di balik pilihan tersebut pasti terdapat sesuatu yang menarik. Dan menariknya panggilan itu adalah  bukan karena tapak-tapak melewati pergumulan hidup. Tapi bagi saya, yang paling menarik dari ziarah panggilan ini adalah saat-saat romantis di mana saya bergulat menghadapi dan melewati pelbagai cobaan dan tantangan yang seakan-akan hadir menemani tanpa kompromi ibarat tamu yang tak diundang. Pengalaman jatuh bangun dalam mengikuti panggilan DIA yang telah memanggil saya, ini merupakan realitas yang sarat makna, tatkala perahu panggilan saya semakin terhempas gelombang serta badai tantangan yang membuih mengamuk. Namun saya tak perna gentar bahkan berlari, meninggalkan jalan ini, tapi kasih setianya itu tetap membias menerangi tapak-tapak perjalananku. Aku hanya bisa bergeming dalam pengharapan hanya kepada Dia, karena tanpa Dia, aku bagaikan butiran debu.

DIAKON WILHELMUS BARTOLOMEUS

“…IKUTLAH AKU (YOH. 21-19)” 1

 

Pria yang satu ini mempunyai daya pikat yang luar biasa. Senyumnya yang menggoda, sapaannya yang hangat, sinar matanya yang ramah, dan logatnya yang khas tentu akan membuat orang sulit melupakannya sekalipun baru pertama bersua dengannya. Dia juga dikenal sebagai seorang pencinta budaya daerah Ende-Lio. Dalam situasi apapun ia selalu menyempatkan diri untuk mengeluarkan beberapa suku kata Ende-Lio. Salah satunya yakni sapaan “aji-ajiku” yang diperuntukkan bagi adik-adik fraternya. Siapakah dia? Dialah Diakon Wilhelmus Bartolomeus, Pr. Ia lahir pada 11 Maret 1982 di Wolobheto-Ende, dari pasangan Yoseph Riu (Bapak) dengan Barbara Gala (Ibu). Dalam keluarga, diakon berzodiak pisces ini merupakan anak ke-5 dari 7 bersaudara tanpa seorang saudari, dan disapa dengan Wemi. Wemi kemudian bersekolah di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Jopu II dari tahun 1989-1995. Pada saat duduk di bangku kelas III Wemi mulai tertarik dengan kehidupan seminari. Ketertarikannya ini, bermula tatkala siswa Seminari Mataloko mengadakan kunjungan ke tempat tinggalnya. Sejak saat itu, ia berniat untuk bersekolah di Seminari. Namun setelah tamat SD, Wemi tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya untuk masuk Seminari Mataloko karena keterbatasan biaya. Kekecewaanpun menyelimuti dirinya. Wemipun bertolak ke tanah orang, yakni, Dili pada tahun 1995. Di sana, ia melanjutkan pendidikannya di SMPK Paulus VI Dili dari tahun 1995-1998. Namun rencana Tuhan siapa yang tahu. Niat untuk masuk seminaripun tercapai. Pada tahun 1998-2002, ia melanjutkan pendidikan SMA di Seminari Santa Maria Imaculata Lalian-Atambua. Di sekolah inilah, untuk pertama kalinya ia merasakan hidup sebagai seorang seminaris. Di sekolah ini pula nama Wemi diganti dengan Bertho. Bertho pun kemudian disapa sebagai frater atau calon imam, setelah masuk Novisiat Kuwu pada tahun 2002 sebagai seorang biarawan SVD. Namun, sapaan ini hanya bertahan selama 2 bulan, karena pada Oktober 2002 ia menarik diri dari Novisiat Kuwu. Setelah, keluar dari Novisiat Kuwu, Bertho mulai mencari-cari “pelabuhan” yang cocok untuk “sandaran” peziarahan hidupnya. Ia pun berkeinginan untuk menjadi dokter atau ahli pertambangan. Bahkan, ia berencana untuk pindah kewarganegaraan (Indonesia ke Timor Leste) hanya untuk menjadi seorang ahli pertambangan. Namun, Tuhan mempunyai rencana lain dalam hidupnya. Tuhan menangkap Bertho untuk menjadi penjala manusia, karena pada tahun 2004 ia masuk masa TOR di Lela, untuk menjadi seorang calon imam Dioses Agung Ende. Di masa orientasi ini, nama Bertho kian meredup dan diganti dengan Joys atau Jopu Boys. Setelah menyelesaikan masa TOR, Fr. Joys melanjutkan pendidikan filsafat di STFK Ledalero dari tahun 2005-2009. Pada tahun 2009-2011 Fr. Joys menjalankan masa praktek pastoral (TOP) di Paroki St. Yoseph Freinademetz Mautapaga. Di tempat praktik ini, ia juga ditunjuk untuk menjadi staf pengajar di SMK Negeri I Ende sekaligus menjadi ayah asrama putri St. Petrus Mautapaga. Penggemar berat Barcelona ini kemudian kembali ke Ritapiret setelah menjalankan masa TOP-nya. Dari tahun 2011-2012 frater yang menyamakan kecepatan larinya dengan Messi ini ditunjuk menjadi ketua umum fraters Ritapiret. Pada bulan Maret 2013 Fr. Joys menyelesaikan studi teologinya dan kini menjadi seorang diakon. Diakon Wilhelmus Bartolomeus, Pr. Setelah melalui sebuah proses refleksi yang panjang, Diakon Joys akhirnya memilih “…IKUTLAH AKU (YOH. 21-19)” sebagai motto diakon sekaligus imamatnya nanti. Dengan motto ini, Diakon Joys, Pr hendak mengajak para calon imam dan semua umat beriman untuk rela meninggalkan segala sesuatu yang menggiurkan (barang-barang duniawi) demi menjalankan sebuah panggilan hidup yang suci dan mulia, serta setia menjalani tugas panggilan kita sesuai dengan panggilan atau status hidup kita masing-masing. Proficiat kaeku Diakon Joys, Pr. Tuhan Memberkatimu.